Tampilkan postingan dengan label Teknologi Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Teknologi Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 20 November 2010

Perlukan Pendidikan Karakter Bangsa


Perlukah Kurikulum Karakter Bangsa ?
Oleh Sadiman, M.Pd (Guru SMA Plus Negeri 2 Banyuasin, Alumni TP Unsri)

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan yang lahir tahun 2006 sudah berusia 4 tahun. Kurikulum ini sesungguhnya menjawab berbagai persoalan dan permasalahan para guru, masyarakat dan pengelola pendidikan di tingkat satuan pendidikan (baca sekolah).  Jika kita kilas balik pada perkembangan KTSP tidak lepas dari Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional yang merupakan amanat rakyat Indonesia melalui wakilnya yang berada di lembaga tinggi Negara yaitu DPR. KTSP sesungguhnya merupakan penjelmaan dari Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) yang tidak pernah disyahkan. Semua yang ada di ada di KTSP ada di dalam KBK, sebaliknya tidak semua yang ada di KBK ada di KTSP.
Dari proses lahirnya sebenarnya Kurikulum yang lahir premature, sebab terjadi perubahan disana-sini dalam penyusukan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar. Dibandingkan KBK yang sudah mengalami uji coba selama 2 tahun, KTSP tidak mengalaminya. Pemutar balikan materi, pengurangan dari SK dan KD yang ada di KBK sebagai contoh nyata. 
Usia yang sudah cukup matang bagi sebuah Kurikulum, seharusnya KTSP sudah mapan di tingkat satuan pendidikan. Tidak ada lagi adopsi, tidak ada lagi adaptasi. Semua sekolah semestinya mampu menyusun dokumen 1 berdasarkan dari analisis keadaan sekolah sehingga KTSP tersusun berdasarkan kondisi riil sekolah yang bersangkutan.  Tetapi kenyataan di lapangan didapatan banyaknya dokumen 1 yang masih amburadul, tidak semua sekolah mampu menyusun dokumen 1 sendiri, apalagi dokumen 2 sebagai dokumen pendukung yang meliputi silabus beserta perlengkapannya : Analisis Tujuan Mata Pelajaran, Pemetaan SK-KD, silabus itu sendiri, KKM, progam tahunan, program semester, RPP beserta dengan lembar penilaian dan ditutup dengan bahan ajar.
Banyak sekolah yang diberi kesempatan untuk menyusun dokumen 1 dan guru menyusun dokumen 2 tidak dapat berbuat banyak karena kebiasaannya menerima apa yang berasal dari pusat. Sekolah dan guru tidak mampu mengekspresikan segala sesuatunya dalam bentuk kegiatan yang nyata sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Padahal dengan menyusun dokumen KTSP sendiri maka sekolah dan guru akan lebih leluasa untuk mengembangan potensi anak didik sesuai dengan karakter daerah masing-masing.  Ketidakmampuan dan ketidakmauan mengembangkan KTSP dipengaruhi oleh banyak hal. Banyaknya factor yang mempengaruhi pelaksanaan KTSP di sekolah seperti kebijakan daerah, politik, dan SDM baik di sekolah maupun di dinas pendidikan di Propinsi maupun Kabupaten.
Kegamangan dari pihak lain pun bermunculan, ada yang menganggap KTSP mengalami kegagalan dan siap untuk diganti dengan kurikulum baru. Salah satu yang muncul saat ini adalah pendidikan karakter bangsa. Ide mengenai ini muncul dari para “sesepuh bangsa” dengan menganggap terjadi pelemahan pada kecintaan terhadap negeri  sendiri. Karakter bangsa yang ramah, santun, berbudi pekerti luhur, gotong royong dianggap sudah tidak ada lagi dari KTSP dan pendidikan kita. Sehingga dikhawatirkan terjadi degradasi terhadap rasa kebangsaan dan budaya local.
Padahal jika kita telisik lebih dalam, KTSP sudah cukup lengkap. Apalagi sekarang dengan dikeluarkan juknis berupa buku panduan dalam pelaksanaan KTSP ditingkat sekolah dan guru. Pendidikan karakter bangsa juga masih menjadi tarik ulur apakah mau menjadi kurikulum sendiri, berdiri dalam satu mata pelajaran, atau masuk pada semua mata pelajaran. Sekolah dan para guru menjadi gamang “KTSP saja belum beres, harus ganti lagi” keluhan yang biasa di dengar. Bukankah kita sudah mempunyai pengalaman di masa lalu adanya P4, PSPB, sejarah, dan PMP. Bukankah semua materi yang ada dalam pelajaran tersebut merupakan bentuk karakter bangsa. Keadaan Indonesia yang ada sekarang merupakan hasil dari pendidikan kita di masa lalu yang didalamnya terdapat pelajaran-pelajaran tersebut. 
Melahirkan mata pelajaran baru atau kurikulum baru untuk menggantikan KTSP adalah  cerita panjang yang akan membenamkan pendidikan Indonesia, dimana beban mata pelajaran yang sudah sedemikian gemuk dan berat. Beban belajar yang semakin luas dan semakin padat bagi peserta didik. Padahal sekolah dan guru menghendaki lebih ringannya muatan kurikulum yang akan lahir.
Coba kita telisik lebih jauh, dalam KTSP terdapat pengembangan diri. Jumlah jam pengembangan diri di sekolah sangat bervariasi, minimal sekolah mengalokasikan 2 jam pelajaran. Pada prakteknya pengembagan diri di sekolah lebih dari 6 jam. Mengapa ? Secara kalkulasi bahwa pengembangan diri ada 2 jenis yaitu terprogram dan tidak terprogram.
         Kegiatan Pengembangan diri terprogram memiliki jadwal rutin seperti kegiatan ektrakurikuler di hari Sabtu, mulai pagi hingga siang. Kegiatan ini dilaksanakan setiap minggu, tujuannya memberikan bekal kepada peserta didik agar dapat mengembangan kemampuan, minat, bakat, kreativitas, kompetensi dan kebiasaan dalam kehidupan, kemampuan kehidupan keagamaan, kemampuan social, kemampuan belajar, wawasan dan perencanaan karir, kemampuan pemecahan masalah dan kemandirian. Dalam kegiatan terprogram ini sudah sangat jelas akan memberikan kemampuan kepada siswa agar mempunyai keterampilan setelah meninggalkan bangku sekolah, baik untuk melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi atau menghadapi kehidupan bermasyarakat.
          Selain itu dalam pengembangan diri terdapat juga kegiatan yang tidak terprogram yang meliputi 3 kegiatan yaitu : Rutin, yaitu kegiatan yang dilakukan terjadwal, seperti : upacara bendera, senam, ibadah khusus keagamaan bersama, keberaturan,  pemeliharaan kebersihan dan kesehatan diri.
          Spontan, adalah kegiatan  tidak terjadwal dalam kejadian khusus seperti : pembentukan perilaku memberi salam, membuang sampah pada tempatnya, antri, mengatasi silang pendapat (pertengkaran).
          Keteladanan, adalah kegiatan dalam bentuk perilaku sehari-hari seperti : berpakaian rapi, berbahasa yang baik, rajin membaca, memuji kebaikan dan atau keberhasilan orang lain, datang tepat waktu
Ketiga kegiatan terakhir secara jelas terlihat merupakan kegiatan karakter bangsa yang perlu dipupuk pada seluruh insan pendidikan dari Sekolah Dasar sampai ke Perguruan Tinggi. Apalah artinya mengubah kulit dari sebuah kurikulum tidak urgensi dan isinya tidak mengalami perubahan.
Terseok-seoknya pelaksanaan KTSP di sekolah menjadikan pelajaran bagi kita, bahwa perubahan yang sedemikian frontal seringkali tidak mendapatkan follow up yang memadai dari sekolah, guru dan masyarakat juga pemerintah daerah. Membenahi isi jauh lebih penting. Memaksimalkan pelaksanaan KTSP juga lebih penting daripada sekedar mengubah ke dalam bentuk lain yang akan lebih membingungkan guru. Bukankan kita lebih baik berkonsentrasi dalam mewujudkan 8 Standar Nasional Pendidikan secara sungguh-sungguh sesuai dengan amanat Undang-undang. Bukanlah kita lebih baik mewujudkan ke 8 Standar sesuai dengan tugas masing-masing. Manakah yang menjadi tugas pemerintah, pemprov, pemkab-pemkot, sekolah, guru dan masyarakat. Pemenuhan terhadap 8 SNP terutama sarana prasarana merupakan kunci sukses dalam pendidikan di Indonesia, daripada mengotak-atik hal lain yang masih abstrak.

Rabu, 27 Oktober 2010

Dasar-dasar Pembelajaran dengan Multimedia

Oleh Joko Sutrisno, S.Si., M.Pd.

Sejarah dalam dunia pendidikan mencatat bahwa media dan teknologi berpengaruh banyak dalam pendidikan, terutama karena menawarkan banyak kemungkinan untuk terjadinya peningkatan kegiatan belajar. Yang terkini adalah keberadaan komputer dan internet, yang telah banyak mengubah setting pembelajaran, baik di sekolah maupun di luar sekolah. Media merupakan suatu saluran komunikasi, yang merujuk pada segala sesuatu yang membawa informasi dari sumber informasi ke penerima informasi, contohnya teks, gambar, video, televisi, dan buku. Dengan demikian, tujuan dari keberadaan media adalah memfasilitasi komunikasi antara sumber informasi dan penerima informasi (Heinich, 2002).

Pada tahun 1978 John Bransford mengembangkan suatu kerangka kegiatan belajar yang memasukkan 4 faktor dasar yang berpengaruh terhadap kegiatan belajar. Keempat faktor ini terjadi dalam beragam situasi kegiatan belajar, termasuk kegiatan belajar yang menggunakan komputer untuk penyampaian materi. Keempat faktor tersebut secara umum adalah materi ajar, karakteristik pembelajar, aktivitas belajar, dan evaluasi.

Faktor pertama adalah karakteristik materi ajar yang dipelajari. Karakteristik materi kegiatan belajar dapat diidentifikasikan melalui banyak unsur, termasuk bagaimana materi tersebut disampaikan (apakah lisan, tulisan, multimedia, dsb), bentuk fisik materi kegiatan belajar (buku, lembaran, presentasi, program komputer, dsb), tingkat kesulitan, dan struktur urutan psikologis materi, dan lain-lain. Bagaimana karakteristik suatu materi ajar disampaikan tentu saja akan berpengaruh pada hasil yang dicapai.

Faktor kedua adalah karakteristik pembelajar, yang antara lain meliputi keterampilan, pengetahuan, dan sikap awal yang telah dimiliki. Ketika seorang pembelajar telah memiliki pengetahuan awal yang cukup mengenai materi ajar yang akan dipelajari, maka ia akan lebih mudah dalam memelajari materi ajar tersebut. Ketika seorang pembelajar mempunyai sikap yang menunjukkan rasa ingin tahu yang tinggi terhadap materi ajar yang akan dipelajari, maka lebih mudah bagi ia untuk menerima materi ajar tersebut. Hasil berbeda akan ditunjukkan oleh seorang pembelajar yang tidak tertarik dengan topik materi ajar yang akan dipelajari.

Faktor ketiga adalah aktivitas kegiatan belajar. Faktor ini meliputi segala aktivitas yang dilakukan pembelajar dalam kegiatan belajar, termasuk di dalamnya adalah memperhatikan, mengulang kembali, dan mengelaborasi. Pengetahuan mengenai gaya belajar seorang pembelajar menjadi penting untuk diketahui agar kegiatan belajar yang dijalankan dapat disesuaikan dengan gaya belajar si pembelajar.

Faktor keempat adalah bentuk evaluasi yang dilakukan, misalnya apakah bentuk tes adalah mengenal, menghafal, memahami, atau pun pemecahan masalah (Najjar, 1995). Bentuk evaluasi yang berbeda akan menyebabkan kegiatan belajar yang berbeda pula, atau dengan kata lain, pembelajar akan menyesuaikan kegiatan belajarnya dengan bentuk evaluasi yang akan diperoleh.

Pembelajaran dengan multimedia juga dipengaruhi oleh keempat faktor tersebut, sehingga desain pembelajaran yang menggunakan multimedia perlu mempertimbangkan keempat faktor tersebut supaya tujuan pembelajaran dapat tercapai. Richard Mayer (dalam Sorden, 2005) secara ringkas mendefinisikan pembelajaran dengan multimedia sebagai sebuah presentasi materi ajar dengan menggunakan kata-kata dan gambar-gambar.

Mayer dan Moreno (Mayer dan Moreno, 2002) menyatakan bahwa memberikan kesempatan pada pembelajar untuk belajar dengan mudah melalui representasi verbal dan non-verbal akan membantu pembelajar mencapai tujuan belajar. Proses belajar aktif dapat terjadi jika pembelajar terlibat dalam tiga proses kognitif, yaitu (1) memilih kata-kata yang relevan untuk pemrosesan verbal dan gambar-gambar yang relevan untuk pemrosesan visual, (2) mengorganisasi kata-kata ke dalam model verbal dan gambar-gambar ke dalam model visual, dan (3) memadukan komponen-komponen model verbal dan visual yang bersesuaian.

Untuk meningkatkan proses kognitif memilih, presentasi multimedia tidak boleh mengandung terlalu banyak informasi dalam bentuk teks atau suara yang berlebihan. Untuk meningkatkan proses kognitif organisasi, presentasi multimedia sebaiknya menampilkan tahapan-tahapan verbal dan non-verbal secara sinkron. Sedangkan untuk meningkatkan proses kognitif memadukan, presentasi multimedia sebaiknya menampilkan kata-kata dan gambar-gambar yang efektif untuk kemampuan dan kapasitas short-term memory.

Berdasarkan pada kerangka belajar yang dibuat oleh Bransford yang menunjukkan faktor-faktor yang berpengaruh dalam kegiatan belajar, perlu sangat dicermati faktor pertama, yaitu tentang karakteristik materi ajar, terutama pada komponen conceptual difficulty. Sejalan dengan konsep yang disajikan oleh Bransford, untuk mendapatkan kegiatan belajar yang optimal. sebaiknya pembelajaran dengan multimedia tetap harus memperhatikan tingkat kesulitan konseptual dari informasi yang disampaikan tersebut. Misalnya, suatu informasi yang sangat sederhana tidak memerlukan media yang terlalu rumit (kombinasi dari beberapa media), sedangkan informasi yang rumit (kompleks) mungkin saja akan terbantu jika disampaikan melalui media yang kompleks juga (misalnya konsep proses terjadinya hujan akan lebih mudah dijelaskan melalui animasi).

REFERENSI

Heininch, R., Molenda, M., Russell, J.D., Smaldino, S.E. Instructional Media and Technologies for Learning, 7th Ed. Ohio: Merrill Prentice Hall, 2002.

Mayer, R.E., Moreno, R. A Learner-centered Approach to Multimedia Explanations: Deriving Instructional Design Primciples from Cognitive Theory. Interactive Multimedia Electronic Journal of Computer-Enhanced Learning, 2000.

Mayer, R.E., Moreno, R. “A Cognitive Theory of Multimedia Learning: Implications for Design Principles”. www.eng.auburn.edu/csse/ research/researchˍgroups/ vi3rg/ws/mayer.rtf atau www.unm.edu/~moreno/PDFS/chi. pdf

Najjar, L.J. “A Review of the Fundamental Effects of Multimedia Information Presentation on Learning”. Atlanta: School of Psychology and Graphic, Visualization, and Usability Laboratory, Georgia Institute of Technoloy, Atlanta. 1995. (http://www.cc.gatech.edu/gvu/ reports/TechReports95.html)

Sorden, S.D. A Cognitive Approach to Instructional Design for Multimedia Learning. Informing Science Journal, Volume 8, 2005.

Jumat, 19 Februari 2010

Menggunakan Internet Sebagai Sumber Belajar (Using the Internet as a Source of Learning)

Ketika saya menekan tuts computer pertama kali pada tahun 1988/1989 saya tidak pernah menyangka kalau computer akan berkembang sedemikian rupa seperti sekarang. Waktu itu saya hanya berfikir computer merupakan barang langka yang tidak ada di sembarang tempat dan harganya sangat mahal.
Waktu itu computer adalah jenis XT, dan AT 286, kedua computer ini merupakan barang antic yang pasti sekarang hanya ada di museum milik bil gate, atau perusahaan computer lainnya.
Sekarang computer sudah sedemikian rupa majunya, sudah masuk ke dalam berbagai lini, saya sendiri kalau tidak menekan tuts computer dalam satu hari rasanya kangen sekali. Sebagai guru saya banyak menghabiskan waktu untuk mengajar, menulis dam memelototi layar monitor, dengan kacamata + ku yang antic.
Saya pernah mengalami kejadian lucu yang tidak pernah dapat dilupakan seumur hidupku. Pada tahun 2003, saya mengikuti lomba Clasroom Action Research (CAR) atau Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Saat itu saya sudah mengenal computer dengan baik, dapat membuat slide dengan Power Point. Akan tetapi pada saat itu tidak satupun LCD monitor disediakan dinas Pendidikan Propinsi, yang ada hanyalah OHP.
Saya bergelut semalaman untuk membuat OHT (beningan), saya hasilnya cukup fantastis. KArena itu adalah lomba pertamaku dalam CAR dan saya mewakili propinsi dalam lomba CAR tingkat Nasional di Batu Malang. Ketika sampai di malang saya terpana, betapa saya tertinggal semua orang dari pulau jawa menggunakan LCD, Flasdisk dan semua barang-barang yang asing bagiku.
Sejak saat saya tidak lagi perduli dengan lingkungan, bahwa teknologi merupakan hal yang harus dikuasai meskipun dengan keadaan serba terbatas. Ini semua yang memicuku sampai saat itu, hingga menjadi cukup di kenal di Banyuasin dan Sumatera Selatan.
Komputer terutama internet merupakan sumber belajar yang harus di manfaatkan oleh semua guru karena di dalam internet terdapat jutaan bahkan milyaran informasi yang ada dan terupload setiap detik.
1. Internet Sumber Belajar
Ada beberapa trik yang harus dilakukan oleh guru dalam penggunaan internet, pertama adalah browsing, mencari informasi sesuai dengan mata pelajaran. Dalam browsing kita dapat mencari gambar, materi, skema, media yang dapat digunakan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Saat itu guru tidak lagi hanya berpedoman pada buku, karena buku biasanya tertinggal dengan informasi dari internet yang serba baru.

2. Internet Lebih Murah
Disamping itu dengan internet tentu pengeluaran menjadi lebih murah, jika kita browsing selama 3 jam di warnet, maka hanya mengerluarkan 10 ribu saja, tetapi jika kita mencari buku dengan dengan kualitas yang ada di internet, tentu dengan harga yang lebih mahal.
Peserta didik kita juga harus terbiasa dengan internet, guru harus dapat menggiring siswanya untuk menggunakan internet sebagai sarana untuk mengembangkan diri. Perlu di ingat bahwa TIK bukan saja miliki guru TIK, tetapi harus dimiliki oleh semua guru mata pelajaran. Dengan teknologi semua menjadi mudah. Kendala hanya di dapatkan pada awal waktu penggunaan, selanjutnya terserah Anda, pasti akan keranjingan seperti saya.

3. Teknik Penggunaan
Dalam penggunaan internet, kita dapat melakukan secara halus sebagai contoh tugas yang kita berikan dikumpulkan melalui email, atau kita kirimkan email tugas pada siswa. Dengan demikian maka siswa harus membuat email. Kita dapat juga memasang tugas di dalam blog, atau website. Siswa yang akan melihat tugas harus mengunjungi blog yang bersangkutan.
Sebenarnya kita memaksa siswa untuk dapat menggunakan internet secara halus, jika hal ini tidak dilakukan maka penggunaan internet hanya isapan jempol saja.
Internet juga dapat digunakan untuk mengajar secara langsung di kelas dengan bantuan LCD Proyektor, siswa akan mendapatkan hal-hal baru dan akan berusaha mencarinya sendiri baik dirumah maupun di warnet tentang materi yang dipelajari.
Kita dapat juga memanfaatkan secara offline, ini dilakukan jika computer di sekolah kita tidak tersambung dengan jaringan internet atau karena tidak ada hospot di sekolah kita. Dowload materi dan gunakan untuk mengajar di kelas.

Kamis, 18 Februari 2010

Teory Vigotsky


1.      Teori Vygotsky
Lev Vygotsky lahir dan hidup di Rusia (1896 – 1934) hampir bersamaan dengan Piaget. Vygotsky meninggal pada usia muda pada usia 37 tahun. Tahun 1960-an baru karya Piaget dan Vygotsky diterjemahkan dalam Bahasa Inggris.  Mulai saat itu pendapat Vygotsky mulai di kenal dan diterapkan di Amerika serikat. Pada saat itu para psikolog Amerika Serikat tertarik dengan pendapat-pendapat Vygotsky.

2.      Asumsi Vygotsky
Ada tiga hal yang menjadi inti dari pendapat Vygotsky yaitu :
1.      keahlian kognitif anak akan dipahami apabila dianalisis dan diinterprestasikan secara developmental
2.      kemampuan kognitif dimediasi dengan kata, bahasa dan bentuk diskursus yang berfungsi sebagai alat psikologis untuk membantu dan mentranspormasikan aktivitas mental
3.      Kemampuan kognitif berasal dari relasi sosial dan dipengaruhi oleh latar belakang sosiokultural
Menurut Vygotsky hal yang pertama, menggunakan pendekatapan developmental berarti memahami fungsi kognitif anak dengan memeriksa asal usulnya dan transpormasinya dari bentuk awal ke bentuk selanjutnya. Jadi tindaknya mental tertentu seperti menggunakan ”ucapan batin” (inner speech) tidak bisa dilihat dengan tepat dan dievaluasi sebagai langkah dalam perkembangan bertahap.
Hal kedua Vygotsky yaitu untuk memahami fungsi kognitif kitas harus memeriksa alat yang menjadi perantara dan pembentuknya. Menurutnya bahasa merupakan alat yang penting. Bahasa digunakan untuk membantu anak dalam untuk merancang aktivitas dan memecahkan masalah.
Hal yang ketiga, kemampuan kognitif berasal dari hubungan sosial dan kultur. Menutur Vygotsky perkembangan anak tidak dapat dipisahkan dari perkembangan sosial kultural. Dia percaya bahwa perkembangan memory, perhatian, dan nalar melibatkan pembelajaran untuk menggunakan alat yang ada dalam masyarakat, seperti bahasa, sistem matematika, dan strategi memori. Dalam satu kultur, mungkin pembelajaran menggunakan komputer tetapi di kultur yang lain berhitung menggunakan jari tangan. Pandangan Vygotsky dapat dipahami bahwa pengetahuan dipengaruhi situasi dan bersifat kolaboratif. Artinya lingkungan yang mencakup obyek, artefak, alat, buku dan komunitas di mana orang berada. Dari hal ini dapat disimpulkan bahwa pengetahuan dapat dicapai dengan interaksi sosial dengan orang lain melalui kegiatan bersama.

3.      ZPD (Zone Of Proximal Development)
Vygotsky mengajukan gagasan yang unik tentang hubungan antara pembelajaran dan perkembangan. Ide ini berasal dari situasi pandangan ketiga mengenai sosial kultural. Ide unik ini adalah tentang Zone Of Proximal Development (ZPD).
ZPD merupakan serangkaian tugas yang terlalu sulit untuk dikuasai siswa secara sendirian, tetapi dapat dikuasai dengan bantuan guru atau orang yang lebih dewasa atau orang yang lebih mampu. Ada dua batas yang ada pada ZPD yaitu batas bawah dan batas bawah. Batas bawah adalah batas problem yang dapat dipecahkan oleh anak, sedangkan batas atasnya adalah tanggung jawab atau tugas tambahan yang diperoleh anak dengan bantuan guru, instruktur atau anak yang lebih mampu.
Dalam konsep pembelajaran ZPD, dalam ruang-ruang kelas dapat terdiri dari berbagai siswa dengan berbagai usia, diharapkan dalam proses ini siswa yang lebih dewasa atau lebih mampu dapat membantu siswa usianya ada di bawahnya. Sedangkan yang paling dewasa dapat dibantu oleh instruktur atau oleh guru di kelas tersebut. Contoh lain dari ZPD adalah adanya tutor teman sebaya.

4.      Scaffolding
Scaffolding erat kaitnnya dengan gagasan ZPD, sebuah teknik untuk mengubah level dukungan. Selama sesi pengajaran, orang yang lebih ahli (guru atau siswa yang lebih mampu) menyesuaikan bimbingan dengan kemampuan murid yang telah dicapai. Di awal-awal pembelajaran guru atau siswa yang lebih mampu dapat melakukan bimbingan langsung, semakin tinggi level kemampuan anak maka bimbingan yang diberikan akan semakin sedikit.
Dalam proses scaffolding, dialog merupakan hal yang penting. Vygotsky juga menganggap bahwa punya konsep yang kaya tetapi tidak sistematis, tidak teratur, dan spontan. Siswa akan memiliki konsep yang sistematis, teratur, logis dan rasioal jika ada guru, orang dewasa, orang yang lebih mampu membimbingnya.

5.      Bahasa dan Pemikiran
Menurut Vygotsky anak-anak menggunakan bahasa bukan hanya untuk komunikasi sosial, tetapi juga untuk merencanakan, dan memonitor perilaku dengan cara mereka sendiri yang dinamakan pembicaraan batin (inner speech). Kita sering memperhatikan bahwa anak-anak sering berbicara sendiri dan seolah berbicara dengan orang lain. Menurut Vygotsky hal ini merupakan pembicaraan batin, tetapi menurut Piaget hal ini menunjukan bahwa anak tersebut belum dewasa.
Pola pembicaraan bantu (inner speech) merupakan transisi awal untuk lebih komunikatif sosial. Menurut Vygotsky bahwa bahasa merupakan bentuk dan berbasis sosial. Menurut beberapa penelitian, inner speech yang diungkapkan oleh Vygotsky memang merupakan faktor perkembangan anak (Winsler, Diaz & Motero, 1997)

6.      Menerapkan Teori Vygotsky untuk Pendidikan Anak
Secara umum baik pendapat Piaget maupun pendapat Vygotsky merupakan pendapat pembelajaran kontruktivis, yaitu pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk dapat membentuk pengetahuan dengan proses mereka sendiri. Pembentukan pengetahuan dengan kontruktivis terbukti bertahan lebih lama dan dapat mendewasakan peserta didik.
Dalam menerapkan Teory Vygotsky maka ada beberapa tahapan:
1)      gunakan zone of proximal development
2)      gunakan teknik scaffolding
3)      gunakan kawan sesama murid sebagai guru
4)      dorong pembelajaran kolaboratif, pembelajaran yang melibatkan komunitas pembelajaran di lingkungannya
5)      pertimbangan kontek kultur dalam pembelajaran
6)      pantau dan dorong anak-anak untuk menggunakan private speech atau inner speech
7)      Nilai ZPD tidak tergantung IQ
Dari hal diatas dapat dilihat bahwa proses pembelajaran yang menggunakan Teory Belajar Vygotsky menggunakan prinsip pembelajaran kelompok atau pembelajaran dengan pembimbingan. Saat ini memang di Indonesia sedang berkembang pembelajaran dengan model kelompok dan model pembelajaran langsung.
Model pembelajaran kelompok mengutamakan interaksi antara peserta didik dengan peserta didik yang lain serta dengan pembimbing atau guru dalam kelas yang bersangkutan. Dengan interaksi maka akan terjadi pembelajaran sesuai dengan ZPD atau Scaffolding. Siswa yang lebih mampu dapat menjadi tutor bagi siswa yang kurang mampu dalam penguasaan materi. Demikian juga guru dapat dijadikan sebagai tutor untuk materi yang tidak dikuasai siswa. Prinsip guru sebagai tutor merupakan salah satu ciri dari model pembelajaran langsung.
Secara sosial teory Vygotsky memang penting untuk dikembangkan di Indonesia untuk meningkatkan rasa sosial diantara peserta didik, dengan demikian maka akan timbul saling menghargai antara satu siswa dengan siswa yang lain. Dalam lingkup yang lebih besar akan menghasilkan sikap toleran yang lebih baik di antara kita.

Senin, 11 Januari 2010

Bentuk-Bentuk Belajar - Forms of Learning

1. Belajar Responden
Belajar responden termasuk pada psikologi tingkah laku,
Percobaan Ivan Pavlov, disebut dengan respoden quistioning. Dalam prakteknya, orang bisa belajar dengan di kondisikan, oran bisa belajar karena pembiasaan. Ada hal-hal yang bersifat alami, dan jika dikondisikan juga mempunyai kekuatan yang sama seperti kondisi alami. Contohnya seorang guru matematika, antara matematika yang diajarkannya. Respon siswa, jika guru matematika menyenangkan maka siswa akan menyenangi matematika. Demikian juga jika guru matematika tidak disukai maka pelajaran matematikan yang diajarkan juga menjadi tidak disukai.
Jika suatu kondisi sudah tercipta, maka keadaan akan menjadi lebih mudah. Gambaran percobaan yang dilakukan oleh Ivan Pavlov seperti berikut ini:

• UCS (Unconditioning Stimulus) / stimulus yang tidak dikondisikan → UCR : bukan belajar / insting.
• NS (Lampu) → tidak ada respon
• CS (Conditioning stimulus) (lampu) + US (Unconditioning Stimulus) → UCR
• CS (lampu) → CR (air liur) : sudah terkondisi


B.F. Skinner
Terkenal dengan mesin pengajar
- membedaan : perilaku alami (innate behavior) : perilaku yang ditimbulkan oleh stimulus yang jelas
- Perilaku operasn (operan behavior) : perilaku yang diti
Prinsip umum yang penting:
o Setiap respon diikuti oleh reward – bekerja sebagai reinforcement stimuli – akan cenderung diulangi
o Reward atau reinforcement stimuli akan meningkatkan kecepatan (rate) terjadinya respons. Dkl reward akan meningkatkan probabilitas respons.
3 Komponen tingkah laku:
- Kesempatan peristiwa ketika respon terjadi
- Respon subyek
- Konsekuensi
Oleh Skinner dikemukakan:
- Stimulus diskriminatif SD
- Respon
- Stimulus yang menguatkan
- Jadi urutannya SD + R + Sren

1. Stimulus diskriminatif : sembarang stimulus yang hadir secara ajeg bisa mana respon menerima penguatan. Misal merpati mematok tombol merah



2. Penguatan primer dan skunder
3. Penguat primer = penguatan yang meingkatkan keseringan respon
4. Penguatan sekunder = penguatan berkondsi yaitu tingkah laku yang diperoleh melalui kondisioning atau latihan yaitu melalui asosiasi dengan penguatan primer
5. Penguatan generalisasi misalkan perhatiakn, persetujuan, kasih sayang, pujian
6. Penguatan ada yang positip atau negatif. Positip : makanan, uang. Negatif : lecutan kepada kuda agar cepat lari.

Edward Lee Thordike
• Asosiasi antara sense of impession dan impuls to action disebut koneksi (connection). Pavlove menyebyt asosiasi
• Menitik beratkan pada aspek fungsinal perilaku
• Belajar trial and erros – learning by selectiing and connecting
• Eksperimen dengan puzle box : kucing
• S → R → penguatan positif (S = stimulus, R = Respon)
• S → R → penguatan negatif

John B. Watson

Melakukan percobaan
Perlakuan
A. melihat kelinci, dimanapun merasa takut
B. Kelinci diletakkan 12 kaki dari dirinya, dapat diterima
C. Kelinci diletakan 4 kaki, dan dimasukan dalam kandang, dapat diterima
D. Kelinci 3 kaki, masukan dalam kandang, dapat diterima
E. Posisi kelinci sudah sangat dekat di dalam kandang, dapat diterima
F. Kelinci berkeliaran dalam ruangan
G. Kelinci didekatkan ke tubuhnya

Minggu, 10 Januari 2010

SUMBER BELAJAR BY VIRTUAL-VIRTUAL LEARNING BY SOURCE



1. LATAR BELAKANG
Learning Resorce (Sumber Belajar) merupakan hal yang sangat penting dalam proses pembelajaran. Kunci sukses dalam proses pembelajaran tidak lepas dari pemanfaatan sumber belajar secara tepat. Sumber pembelajaran secara umum dibedakan menjadi 2 macam yaitu sumber belajar yang dirancang (learning resorce by design) dan sumber belajar yang dimanfaatkan (learning resorce by utization).
Dalam sumber belajar terkandung pesan, orang, bahan peralatan, teknik dan lingkungan. Pesan merupakan apa saja yang terkandung dan ingin disampaikan dalam proses pembelajaran. Orang merupakan pelaku, dalam hal ini ada dua hal yaitu subyek dan obyek. Bahan atau peralatan merupakan apa-apa saja bahan yang terlibat dalam sumber belajar sebagai proses pembelajaran. Sedangkan teknik merupakan cara pembuatan dan penggunaan sumber belajar. Lingkungan merupakan tempat dimana sumber belajar tersebut berada atau lingkungan itu sendiri yang dijadikan sebagai sumber belajar.
Salah satu sumber belajar yang by design yang ada adalah sumber belajar virtual. Sumber belajar by design merupakan respon dari semakin majunya teknologi informasi dan komunikasi. Sumber belajar virtual saat ini dapat dibuat melalui computer, internet, Handphone maupun teknologi informasi dan komunikasi lainnya.
Menurut Hardjito (2005) dikatakan bahwa sumber belajar virtual terbagi menjadi 2 jenis yaitu sumber belajar melalui internet dan multimedia. Dalam jabaran selanjutnya pembelajaran virtual melalui internet dapat berupa e-learning, virtual university, on-line courses, on-line tutorial, penyediaan bahan belajar, perpustakaan elektronik, Computer Assisted Instruction (CAI).
Menurut Purwanto (2005) multimedia dapat berupa tutorial, drill and practice, simulasi, percobaan atau eksperimen, dan permainan.


2. MASALAH
Agar pembahasan tidak melebar dan terfokus maka pembahasan perlu dibatasi. Dalam makalah ini yang menjadi masalah adalah :
1) Apa yang dimaksud sumber belajar by virtual?
2) Bagaimana pemanfaatan sumber belajar by virtual khusus internet dalam proses pembelajaran?


3. PEMBAHASAN
3.1. Sumber Belajar by virtual
Sumber belajar by virtual merupakan sumber belajar yang dirancang sedemikian rupa sehingga dapat melakukan hal-hal yang sulit dilakukan secara nyata dan tidak mungkin dilakukan pengulangan. Sebagai contoh proses mendekatnya komet helay ke bumi, proses berubahnya bunga menjadi buah, proses fotositesis, bencana alam seperti tsunami. Hal-hal tersebut tidak dapat diulang atau tidak dapat dilakukan secara langsung. Maka untuk memvisualkan hal tersebut dalam proses pembelajaran diperlukan sumber belajar virtual.
Saat ini sumber belajar virtual sudah banyak dijumpai. Meskipun sumber belajar by virtual dapat berupa software computer, internet atau handphone, tetapi yang paling banyak digunakan adalah computer dan internet. Hal ini tentu berkaitan dengan kapasitas atau kemampuan dari computer dan internet yang lebih baik daripada handphone. Tetapi dengan semakin majunya handphone dimasa yang akan dating model pembelajaran virtual akan semakin menarik.
Sumber belajar virtual terbagi menjadi dua macam yaitu sumber belajar internet dan multimedia, meskipun keduanya sulit sekali dipisahkan. Karena di dalam internet terdapat multimedia atau sebaliknya multimedia dikembangkan dengan internet.
Istilah-istilah penggunakan internet dan computer sebagai sumber belajar ada 3 jenis yaitu CAI, CAL dan CBL. CAI (Computer Assisted Instruction) merupakan sumber belajar merupakan proses pembelajaran yang menggunakan computer sebagai alat bantu. Atau dapat juga dikatakan proses pembelajaran yang menggunakan computer sebagai sumber belajar. Ciri dari CAI adalah interaktif, belajar mandiri dan computer menyedia bimbingan (Rieber dalam Purwanto, 2000).
CAL (Computer Assisted Learning) memiliki arti yang sama dengan CAI. CAI dan CAL keduanya menekankan sebagai sumber belajar mandiri. Pada umumnya CAI dan CAL hanya berupa materi pengayaan.
Sedangkan CBL (Computer Based Learning) computer digunakan sebagai pembelajaran (the bulk of the contents), sebagian materi pokok dijadikan sebagai hal yang pokok. CBL sangat cocok digunakan untuk pembelajaran jarak jauh (distance learning).


3.2. E-learning
Seperti telah dijelaskan di atas bahwa sumber belajar virtual dalam kehidupan sehari-hari dapat berupa e-learning. E-learning secara sederhana dapat diartikan sebagai pembelajaran jarak jauh dengan menggunakan internet sebagai sumber belajarnya. Dengan semakin mudah dan murahnya internet dimasyarakat. Sumber belajar Virtual berupa e-learning dapat berupa email atau dapat juga berupa website.
Penyelenggaraan e-learning di Indonesia sebenarnya sudah berlangsung cukup lama, atau sejak pendidikan jarak jauh dilakukan. Sekarang e-learning sudah dimanfaatkan untuk keperluan pendidikan tinggi, pendidikan menengah dan pendidikan guru seperti Asian Internet Interconections Initiatives, APEC Cyber Education Network (ACEN), Southeast Asia Global Distance Education Network dan OSOL milik Pustekkom.
Asian Internet Interconections Initiatives, merupakan jaringan yang kordinir ITB yang dibangun pada tahun 1996. Saat ini sudah 21 lembaga pendidikan tinggi negeri dan swasta tergabung dalam jaringan ini yang bertujuan untuk pengembangan backbone internet untuk pendidikan di kawasan Asia Pasifik, pengembangan teknologi internet untuk pendidikan, riset dan pengembangan informasi internet meliputi aspek-aspek ilmu pengetahuan, teknologi, budaya, social dan ekonomi.
APEC Cyber Education Network (ACEN), merupakan jaringan internet yang bertujuan untuk mengurangi kesenjangan guru-guru sekolah ditingkat menengah dalam memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi. Jaringan ini dikoordinasi oleh Balitbang Depdiknas. Jaringan ini menjembatani para guru untuk membuat web magazine (webzine) artikel para guru yang tersebar di Jakarta, Jigjakarta dan Semarang. Saat ini anggota dari ACEN ada 50 sekolah menengah atas baik SMA maupun SMK negeri dan swasta (Hardjito, 2005).
Southeast Asia Global Distance Education Network, yang menjadi pokok dalam hal ini adalah Teaching Learning, Technologi, Policy and Program serta Managemen. Dalam hal ini Pustekkom berlaku sebagai koordinator IDLN (Indonesian Distance Learning Network) dan sebagai server.
OSOL milik Pustekkom, One School One Lab merupakan program baru milik Depdiknas melalui Pustekkom. Program ini mencanangkan bahwa seluruh sekolah menengah atas dalam tahun 2009 harus sudah memiliki minimal 1 buah laboratorium computer dengan akses internet. Saat ini jaringan backbone untuk OSOL sedang dibangun meliputi seluruh wilayah Indonesia dengan menggunakan serat optic.


3.3. Virtual University
Virtual university atau universitas maya, di Indonesia telah didirikan pada tahun 2001 yang diselenggarakan oleh Yayasan Indonesia Bangkit dengan nama program Indonessia Bangkit University Teledukasi (IBU Teledukasi). Semua sumber belajar yang digunakan virtual baik melaui internet maupun melalui multimedia.


3.4. On-line courses
merupakan salah satu pendidikan virtual melalui internet. Salah satu pelopor in-line courses adalah Universitas Petra Surabaya (www.petra.ac.id) yang telah melakukan online courses untuk bidang international bussines management, accounting, electrical engineering, English literature, Civil Engineering, Instrial Engineering, Informatics dan Visual Communication Design.
Pasca sarjana Teknologi Pendidikan Universitas Lampung juga mulai memanfaatkan virtual courses pada tahun 2006 meskipun masih dalam taraf ujicoba.
Ditingkat SMA pelopor penggunakan on-line courses adalah SMUK 1 Penabur dan SMK negeri 6 Jakarta dimana guru memberikan tugas melalui internet baik secara individual maupun secara kelompok. Dalam diskusi mereka membentuk milis sehingga memungkinan antara siswa yang satu dengan lainnya dapat melakukan diskusi secara on-line.


3.5. On-line tutorial
Tutorial online saat ini yang paling banyak menggunakan adalah Universitas Terbuka dan Pustekkom melalui e-dukasi.net nya. Sebagai satu-satunya universitas yang menyelenggarakan pendidikan jarak jauh Universitas Terbuka telah lama melakukan e-learning, dan saat ini penyelengaaran tutorial dilakukan secara on-line melaui internet. Di samping itu ada juga beberapa mahasiswa membentuk milis untuk berdikusi baik dengan pembimbingnya ataupun antara mahasiswa.


3.6. Penyediaan bahan belajar
Beberapa perguruan tinggi negeri dan swasta telah melengkapi fasilitasnya dengan menyediakan bahan ajar, baik berupa materi perkuliahan maupuan materi-materi lain yang ditujukan untuk memperkaya wawasan keilmuwan mahasiswa. Materi ini berupa karya tulis dosen, modul, saduran buku, dan processing seminar.
Untuk melengkapi bahan ajar SMA terutama untuk SMA terbuka Pustekkom telah mengembangan modul lewat internet.
Salah satu produk yang menjadi andalan dari Pustekkom adalah E-dukasi.net. Dalam website ini terkandung bahan ajar baik untuk guru maupun untuk siswa. Kategori yang ada saat ini adalah SMP, SMA dan SMK. Konten untuk sekolah dasar dan pendidikan usai dini sedang dikembangkan.
Dalam e-dukasi.net tersedia beberapa bahan belajar dalam bentuk Materi pokok, Modul Online, Pengetahuan Populer, Bank Soal dan Uji Kompetensi. Pilihan materi dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan minat siswa atau guru.


Materi pokok, dalam materi pokok terdapat beberapa bahan belajar mulai dari tingkat SD, SMP, SMA dan SMK. Bahan belajar ini dapat dipilih per mata pelajaran dan per-topik. Materi-materi ini dapat didown load dan dapat digunakan oleh guru sebagai bahan ajar di sekolah. Isi dari materi pokok terus dikembangkan ditambah dengan materi pokok baru.
Modul Online, modul ini pada awalnya merupakan modul cetak bahan belajar mandiri untuk siswa SMP dan SMA terbuka. Bahan ini kemudian diubah menjadi digital dan dilengkapi dengan animasi serta link-link sebagai ciri bahan ajar yang bersifat virtual. Modul-modul ini juga dapat didown load dan dapat dicetak sesuai dengan kebutuhan kita.
Pengetahuan Populer, merupakan konten yang menyediakan pengetahuan praktis yang perlu diketahui oleh masyarakat luas. Pengetahuan ini akan memberikan manfaat untuk pemecahan masalah kehidupan sehari-hari yang dikemas dalam bahasa sehari-hari.
Bank Soal, merupakan kumpulan soal-soal untuk menguji siswa dalam menghadapi ujian nasional. Kontenya juga untuk SD, SMP dan SMA. Bank soal ini bersifat online. Koleksi soalnya sudah tersedia lebih dari 20.000 soal yang terdiri atas soal ujian nasional, UAN, UN, SPMB, UMPTN dan Sipenmaru. Setiap soal diberikan kunci jawaban serta pembahasannya sehingga setiap siswa yang mengerjakan soal tersebut dapat mengecek sejauh mana soal dapat dikerjakan.
Uji Kompetensi, menyediakan layanan menguji kemampuan terhadap materi tertentu. Uji Kompetensi berisi beberapa soal untuk menguji penguasaan atau kompetensi tiap mata pelajaran yang ditiap semester dengan jumlah soal yang telah ditentukan.


3.7. Perpustakaan elektronik
Beberapa perguruan tinggi ternama seperti ITB dan UGM telah menyediakan perpustakaan elektronik atau dikenal sebagai digital library network. Salah satunya adalah idln.tib.ac.id yang merupakan jaringan perpustakaan elektronik beberapa perguruan tinggi baik yang negeri maupun yang swasta dan berbagai lembaga penetian dan pengembangan di Indonesia.


3.8. Buku elektronik
Salah salah program pemerintah dalam penyediaan buku yang murah adalah dengan buku elektronik. Buku-buku ini tersedia di www.bse.depdiknas.gi.id. Buku-buku dapat di down load dan dicetak secara gratis. Jika ada yang akan menerbitkan maka buku-buku ini harus dijual sesuai harga yang telah ditentukan pemerintah antara Rp. 4.000,00 sampai Rp. 15.000,00.
Buku elektronik dimaksudkan agar program pemerintah untuk mencapai pendidikan bermutu dan mensukses wajib belajar 9 tahun berhasil. Buku-buku ini telah dibeli hak ciptanya oleh pemerintah dalam jangka waktu 10 tahun. Dengan demikian penerbit yang menjual buku ini tidak perlu lagi untuk membayar rolyalti pada penulis.
Meskipun sampai dengan saat ini masih sangat sulit untuk mendownload buku elektronik tersebut, akan tetapi hal ini merupakan salah satu terobosan yang telah dilakukan oleh pemerintah dalam menyediakan buku-buku murah. Memang ada beberapa kelemahan yang dimiliki program ini seperti masih sangat sulitnya mendown load materi kadang-kadang harus berjam-jam untuk login dan download 1 judul buku saja sehingga akhirnya buku menjadi lebih mahal daripada kita membeli di pasaran.
Disamping itu penerbit buku saat ini kebanayakan berada di Pulau Jawa sehingga untuk distribusi ke daerah-daerah seperti Sumatera memerlukan biaya tinggi dan akan menjadikan buku murah sulit terwujud. Hal ini dapat ditanggulangi jika pemerintah daerah mau dan mampu mencetak buku-buku sekolah di daerah dan mendistribusikannya sehingga harga yang telah ditentukan dapat dicapai.
Kelemahan ketiga kebanyakan buku-buku yang dibeli hak ciptanya oleh pemerintah bukan dari buku-buku yang ditulis oleh penulis yang terkenal dan berpengalaman sehingga kadang-kadang guru enggan untuk memakai buku tersebut. Semestinya pemerintah membeli hak cipta pada penulis-penulis yang sudah cukup dikenal dan bukan penulis pemula. Meskipun buku-buku tersebut telah mendapatkan penilaian dari pihak terkait.


3.9. Computer Assisted Intruktion (CAI)
CAI merupakan bentuk lain dari e-learning juga telah dikembangkan oleh beberapa universitas terutama Universitas Terbuka. Bentuk dari CAI adalah program Multimedia Interaktif baik untuk SMU maupun untuk SMK. Sumber belajar virtual dengan CAI dimaksukan untuk siswa atau guru yang belum dapat menikmati sumber belajar virtual secara langsung melalui internet. CAI biasa dirangcang untuk siswa agar dapat berlajar mulai dari slow-learner maupun fast-learner.
Ada 2 tipe multimedia yang saat ini dikembangkan yaitu pendekatan kurikulum dan pendekatan topic. Program ini dibuat dengan mengikuti kurikulum yang berlaku dengan memperhitungkan tingkat dan jenjang pendidikan masing-masing dengan mengambil topic pada suatu mata pelajaran tertentu. Selain itu dimasukan juga contoh-contoh yang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.
Untuk keperluan e-learning dan pembelajaran virtual berbasis internet, sebenarnya teknologi yang dimiliki cukup banyak tersedia. Berbagai software untuk mengembangkan situs e-learning juga cukup banyak tersedia di pasaran. Salah satu program atau software yang digunakan untuk pembuatan bahan ajar e-learning adalah HTML (Hipertext Markup Language). Saat ini juga telah tersedia program-program WSYWIG yang mana antara tampilan dengan hasil sudah sama. Hanya saja sebagai tenaga teknologi pendidikan HTML lebih penting daripada WYSWIG, sebab HTML lebih bersifat teknis dan jika ada kendalam pada sumber belajar yang dirancang atau dibuat dengan mudah dapat ditelusuri.


3.10 Memanfaat Sumber Belajar Virtual
Sumber belajar Virtual baik yang berupa Multimedia atau yang berupa internet memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan buku, audio, video ataupun televise. Keunggulan yang paling menonjol adalah interaksi. Siswa atau guru dapat berinteraksi secara langsung dengan sumber belajar yang digunakan.
Keunggulan lain sumber belajar dapat dipelajar secara berulang-ulang tanpa adanya hambatan dan perubahan (display) dan dapat juga mendapat umpan balik (feed back). Hal ini memungkingkan karena sumber belajar telah menyedia jawaban atau kunci jawaban.
Menurut Alan Chute dari Lucent Teknologi mengelompokan teknologi untuk pembelajaran ini atas 3 model (Hasan, 2001). Dalam model tersebut adalah sebagai berikut:
1. Model 1 Classroom Learning. Sumber belajar dapat digunakan untuk classroom artinya dalam digunakan secara massal dan bersamaan. Hal ini tergantung pada penyedia contents dan bandwidth yang disediakan. Semakin besar kapasitas bandwith yang disediakan dibandingkan dengan pemakainya maka pengguna akan semakin nyaman. Bisa saja penggunaan dalam waktu yang sama dalam ruang yang sama, dapat juga dalam waktu yang sama dalam ruang yang berbeda.
2. Model 2 Distan Learning. Ciri dari distan learning adalah siswa belajar ditempat yang berbeda. Dalam model ini maka internet dan multimedia merupakan solusi yang tepat. Setiap siswa yang lokasi belajarnya berbeda karena letak geografis, letak sekolah yang jauh, keterbatasan waktu karena harus bekerja maka dapat memilih akses sumber belajar virtual dimana saja dan kapan saja dengan mudah. Sebagai Negara yang berbentuk kepulauan dan sangat luas dengan geografis yang sedemikian rupa maka sumber belajar virtual baik berupa internet maupun multimedia sangat cocok untuk dikembangkan dan digunakan.
3. Model 3 Just in Time Learning. Model ini juga memiliki cirri yang sama dengan model distan learning baik waktu, tempat maupun usia pebelajar berbeda sehingga akan menambaha kompleksitas jika bertemu. Sumber belajar ini sangat cook untuk diakses oleh siapapun sesuai dengan kemampuan dan kondisi masing-masing.
Menurut Kurniawati (2008) ada beberapa cara penggunaan sumber belajar virtual yaitu pemanfaatan langsung (on-line), pemanfaatan tidak langsung (off-line), model pembelajaran di kelas, model penugasan, kelompok diskusi.
Pemanfaatan langsung (on-line), sumber belajar berupa internet dapat digunakan secara langsung atau on-line. Hal ini dapat dilakukan jika tempat dimana terjadi proses pembejaran tersedia sambungan internet. Pemanfaatan langsung dapat dilakukan secara klasikal dan dapat dilakukan secara individual.
Pemanfaatan tidak langsung (off-line), pemanfaatan tidak langsung dapat dilakukan jika sekolah hanya memiliki fasilitas computer dan tidak dapat sambungan internet. Disamping itu dapat juga dimanfaatkan jika sambungan internet terbatas. Dengan demikian maka dapat menghemat pengeluaran dan pembayaran pulsa.
Model pembelajaran di kelas, model pembelajaran dikelas dapat juga dilakukan dengan dua cara yaitu secara on-line maupun secara off-line tergantung kondisi dan keadaan dilapangan.
Model penugasan, model penugas dapat juga dilakukan jika dimana lingkungan atau tempat tinggai peserta didik atau guru tersedia sarana prasarana untuk mengakses internet dan multimedia. Hal ini akan meningkatkan kemampuan siswa secara signifikan karena mereka memiliki waktu belajar yang lebih panjang.
Kelompok diskusi, kelompok diskusi dapat juga bentuk on-line dalam forum chatting atau milis. Dengan demikian masalah-masalah yang dipahami dan dipecahkan dapat dipelajari lebih lanjut secara diskusi.


4. KESIMPULAN
Dari pembahasan yang telah dilakukan didapatkan kesimpulan sebagai berikut:
1. Sumber belajar by virtual adalah sumber belajar yang berasal dari internet dan multimedia. Sumberr belajar ini yang dirancang sedemikian rupa sehingga dapat melakukan hal-hal yang sulit dilakukan secara nyata dan tidak mungkin dilakukan pengulangan, peristiwa yang sangat lama, peristiwa yang membahayakan, percobaan yang memerlukan biaya mahal dan lain-lain.
2. Pemanfaatkan sumber belajar virtual dapat dilakukan untuk Classroom Learning, Distance learning dan just time is learning. Disamping itu sumber belajar virtual dapat digunakan dengan cara pembelajaran secara langsung, pembelajaran tidak langsung, model penugasan, dan kelompok diskusi.


5. DAFTAR PUSTAKA
Belawati, Tian. Dkk. Pendidikan Terbuka dan Jarak Jauh, Jakarta: Universitas Terbuka.


Hardjito, 2005. Peluang dan Tantangan Penerapan E-Learning di Indonesia. Jakarta: Pustekkom.


Hasan, Taufik. 2001. The Role of ICT in Distance Learning, bahan kajian untuk the seventh International Symposium on Open and Distance Learning. Jakarta: Pustekkom


Kurniawati, 2008. Modul Pelatihan TIK untuk Guru Materi E-dukasi.net.Jakarta: Pustekkom.


Purwanto, 2005. Multimedia Interaktif. Jakarta: Pustekkom.


www.e-dukasi.net akses tanggal 20 Oktober 2008


www.unila.ac.id akses 20 Oktober 2008

Selasa, 15 Desember 2009

Asyiknya Fisika

Pelajaran fisika di kalangan siswa merupakan salah satu pelajaran yang menjadi momok yang menakutkan. Hal ini patut di maklumi mengingat fisika harus dipelajari dengan melibatkan seluruh panca indera. Fisika jika hanya dipelajari dari segi matematika saja maka akan menghilangkan ilmu fisika itu sendiri. Saat ini pun pelajaran fisika telah berubah menjadi detail-detail matematika yang rumit.
Mempelajari fisika tidak sampai pada tahap matematika, akan tetapi dituntut lebih tinggi lagi dimana fisika dipelajari dengan melibatkan seluruh panca indera. Fisika merupakan ilmu nyata yang sangat dengan dengan kehidupan sehari-hari.
Misalnya tentang gaya hampir semua dalam kehidupan sehari-hari bersentuhan dengan hal tersebut. Gaya menurut definisi adalah segala tarikan dan dorongan, seringkali dalam pembelajaran fisika kita langsung mengingat gaya adalah F, jika dihubungkan dengan hukum I Newton, maka a = F/m. Jika belajar fisika seperti ini tentu hanya akan sampai pada detail matematika dan ingatan saja. Tujuan dari sebenarnya agar siswa paham tentang gaya tidak pernah tercapai.
Coba jika hubungkan dengan kehidupan sehari-hari, bagaimana orang ber-gaya, dihubungkan dengan tarikan atau dorong sebuah meja sehingga meja bergeser. Disini siswa di minta untuk mendefinisikan gaya sesuai dengan pengalaman, pengamatan dan segala sesuatu yang dilihatnya.
Dalam pepatah ”jika kita melihat maka lupa, jika kita melihat maka kita ingat, dan jika kita melakukan maka kita bisa”.
Pelajaran fisika diperlukan contoh-contoh saja dalam kehidupan sehari-hari bukan sekedar rentetan rumus yang makna masih sulit dipahami.
Coba pikirkan dan lihat dalam kehidupan sehari-hari tentang tarikan dengan dorongan. Catat dalam buku dan hubungkan dengan pelajaran fisika.
Bawahlah mereka ke dunia kita dan bawalah dunia kita ke dunia mereka, sehingga fisika tidak jauh di awang-awang dan sulit dipahami untuk apa dipelajari.
Dengan mendekatkan pelajaran dalam kehidupan sehari-hari ke dalam pelajaran fisika, menjadi pelajaran fisika menjadi semakin dekat dengan siswa. Dengan semakin dekat maka pelajaran fisika menjadi menarik.

Selasa, 08 Desember 2009

Belajar, Pembelajaran dan Sumber Belajar -- Learn, Learning Activities, Learning Sources

1
Istilah belajar sudah terlalu akrab dengan kehidupan kita sehari-hari. Di masyarakat, kita sering menjumpai penggunaan istilah belajar seperti: belajar membaca, belajar bernyanyi, belajar berbicara, belajar matematika. Masih banyak lagi penggunaan istilah, bahkan termasuk kegiatan belajar yang sifatnya lebih umum dan tak mudah diamati, seperti: belajar hidup mandiri, belajar menghargai waktu, belajar berumah-tangga, belajar bermasyarakat, belajar mengendalikan diri, dan sejenisnya.
Kalangan awampun mengetahui makna berbagai istilah belajar tersebut. Jika kebetulan Anda adalah seorang guru, maka Anda tidak cukup hanya memahami makna belajar sebagaimana masyarakat awam. Mengapa? Karena memang tugas utama kita sebagai guru adalah membuat orang belajar. Lalu, apa sebenarnya belajar itu? Belajar, merupakan kegiatan yang terjadi pada semua orang tanpa mengenal batas usia, dan berlangsung seumur hidup. Belajar merupakan usaha yang dilakukan seseorang melalui interaksi dengan lingkungannya untuk merubah perilakunya. Dengan demikian, hasil dari kegiatan belajar adalah berupa perubahan perilaku yang relatif permanen pada diri orang yang belajar. Tentu saja, perubahan yang diharapkan adalah perubahan ke arah yang positif. Jadi, sebagai pertanda bahwa seseorang telah melakukan proses belajar adalah terjadinya perubahan perilaku pada diri orang tersebut. Perubahan perilaku tersebut, misalnya, dapat berupa : dari tidak tahu sama sekali menjadi samar-samar, dari kurang mengerti menjadi mengerti, dari tidak bisa menjadi terampil, dari anak pembangkang menjadi penurut, dari pembohong menjadi jujur, dari kurang taqwa menjadi lebih taqwa, dll. Jadi, perubahan sebagai hasil kegiatan belajar dapat berupa aspek kognitif, psikhomotor maupun afektif.

Kegiatan belajar, sering dikaitkan dengan kegiatan mengajar. Begitu eratnya kaitan itu, sehingga keduanya sulit dipisahkan. Dalam percakapan sehari-hari kita secara spontan sering mengucapkan istilah kegiatan “belajar-mengajar” menjadi satu kesatuan. Bahwa kedua kegiatan tersebut berkaitan erat adalah benar. Namun, benarkah bahwa agar terjadi kegiatan belajar harus selalu ada orang yang mengajar? Benar pulakah bahwa setiap kegiatan mengajar pasti selalu menghasilkan kegiatan belajar ? Jawabannya : belum tentu. Artinya, dalam setiap kegiatan belajar tidak harus selalu ada orang yang mengajar.
Kegiatan belajar bisa saja terjadi walaupun tidak ada kegiatan mengajar. Begitu pula sebaliknya, kegiatan mengajar tidak selalu dapat menghasilkan kegiatan belajar. Ketika Anda menjelaskan pelajaran di depan kelas misalnya, memang terjadi kegiatan mengajar. Tetapi, dalam kegiatan itu tak ada jaminan telah terjadi kegiatan belajar pada setiap siswa yang Anda ajar. Kegiatan mengajar dikatakan berhasil hanya apabila dapat mengakibatkan / menghasilkan kegiatan belajar pada diri siswa. Jadi, sebenarnya hakekat guru mengajar adalah usaha guru untuk membuat siswa belajar. Dengan kata lain, mengajar merupakan upaya menciptakan kondisi agar terjadi kegiatan belajar. Istilah pembelajaran lebih menggambarkan usaha guru untuk membuat belajar para siswanya. Kegiatan pembelajaran tidak akan berarti jika tidak menghasilkan kegiatan belajar pada para siswanya. Kegiatan belajar hanya bisa berhasil jika si belajar secara aktif mengalami sendiri proses belajar. Seorang guru tidak dapat “mewakili” belajar untuk siswanya. Seorang siswa belum dapat dikatakan telah belajar hanya karena ia sedang berada dalam satu ruangan dengan guru yang sedang mengajar. Ada satu syarat mutlak yang harus dipenuhi agar terjadi kegiatan belajar. Syarat itu adalah adanya interaksi antara pebelajar (learner) dengan sumber belajar. Jadi, belajar hanya terjadi jika dan hanya jika terjadi interaksi antara pebelajar dengan sumber belajar. Tanpa terpenuhi syarat itu, mustahil kegiatan belajar akan terjadi.
Pekerjaan mengajar tidak selalu harus diartikan sebagai kegiatan menyajikan materi pelajaran. Meskipun menyajikan materi pelajaran memang merupakan bagian dari kegiatan mengajar, tetapi bukanlah satu-satunya. Masih banyak cara lain yang dapat dilakukan guru untuk membuat siswa belajar. Peran yang seharusnya dilakukan guru adalah mengusahakan agar setiap siswa dapat berinteraksi secara aktif dengan berbagai sumber belajar yang ada. Guru hanya merupakan salah satu (bukan satu-satunya) sumber belajar bagi siswa. Selain guru, masih banyak lagi sumber-sumber belajar yang lain. Lalu, apa sebenarnya sumber belajar itu?
Pada hakekatnya, alam semesta ini merupakan sumber belajar bagi manusia sepanjang massa. Jika Anda sependapat dengan asumsi ini, maka pengertian sumber belajar merupakan konsep yang sangat luas meliputi segala yang ada di jagad raya ini.
Menurut Asosiasi Teknologi Komunikasi Pendidikan (AECT), sumber belajar adalah semua sumber (baik berupa data, orang atau benda) yang dapat digunakan untuk memberi fasilitas (kemudahan) belajar bagi siswa. Sumber belajar itu meliputi pesan, orang, bahan, peralatan, teknik dan lingkungan/latar.
Ditinjau dari asal usulnya, sumber belajar dapat dibedakan menjadi dua, yaitu: sumber belajar yang dirancang (learning resources by design) yaitu sumber belajar yang memang sengaja dibuat untuk tujuan pembelajaran. Contohnya adalah : buku pelajaran, modul, program audio, transparansi (OHT). Jenis sumber belajar yang kedua adalah sumber belajar yang sudah tersedia dan tinggal dimanfaatkan ( learning resources by utilization), yaitu sumber belajar yang tidak secara khusus dirancang untuk keperluan pembelajaran, namun dapat ditemukan, dipilih dan dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran. Contohnya: pejabat pemerintah, tenaga ahli, pemuka agama, olahragawan, kebun binatang, waduk, museum, film, sawah, terminal, surat kabar, siaran televisi, dan masih banyak lagi yang lain. Jadi, begitu banyaknya sumber belajar yang ada di seputar kita yang semua itu dapat kita manfaatkan untuk keperluan belajar. Sekali lagi, guru hanya merupakan salah satu dari sekian banyak sumber belajar yang ada. Bahkan guru hanya salah satu sumber belajar yang berupa orang, selain petugas perpustakaan, petugas laboratorium, tokoh-tokoh masyarakat, tenaga ahli/terampil, tokoh agama, dll. Oleh karena setiap anak merupakan individu yang unik (berbeda satu sama lain), maka sedapat mungkin guru memberikan perlakuan yang sesuai dengan karakteristik masing-masing siswa. Dengan begitu maka diharapkan kegiatan mengajar benar-benar membuahkan kegiatan belajar pada diri setiap siswa. Hal ini dapat dilakukan kalau guru berusaha menggunakan berbagai sumber belajar secara bervariasi dan memberikan kesempatan sebanyak mungkin kepada siswa untuk berinteraksi dengan sumber-sumber belajar yang ada.
Hal yang perlu diperhatian adalah, agar bisa terjadi kegiatan belajar pada siswa, maka siswa harus secara aktif melakukan interaksi dengan berbagai sumber belajar. Perubahan perilaku sebagai hasil belajar hanya mungkin terjadi jika ada interaksi antara siswa dengan sumber-sumber belajar. Dan inilah yang seharusnya diusahakan oleh setiap pembelajar (instructor, guru) dalam kegiatan pembelajaran. Peran guru adalah menyediakan, menunjukkan, membimbing dan memotivasi siswa agar mereka dapat berinteraksi dengan berbagai sumber belajar yang ada. Bukan hanya sumber belajar yang berupa orang , melainkan juga sumber-sumber belajar yang lain. Bukan hanya sumber belajar yang sengaja dirancang khusus, melainkan juga sumber belajar yang tinggal dimanfaatkan. Semua sumber belajar itu dapat kita temukan, kita pilih dan kita manfaatkan sebagai sumber belajar bagi siswa kita.
Wujud interaksi antara siswa dengan sumber belajar dapat bermacam-macam. Cara belajar dengan mendengarkan ceramah dari guru memang merupakan salah satu wujud interaksi tersebut. Namun belajar hanya dengan mendengarkan saja, patut diragukan efektifitasnya. Belajar hanya akan efektif jika si belajar diberikan banyak kesempatan untuk melakukan sesuatu, melalui multi-metode dan multi-media. Melalui berbagai metode dan media pembelajaran, siswa akan dapat banyak berinteraksi secara aktif dengan memanfaatkan segala potensi yang dimiliki siswa. Barang kali perlu kita renungkan kembali ungkapan China :Saya mendengar saya lupa, Saya melihat saya ingat, Saya berbuat maka saya bisa.



2
A. Apa sumber belajar itu?
Sumber belajar (learning resources) adalah semua sumber baik berupa data, orang dan wujud tertentu yang dapat digunakan oleh peserta didik dalam belajar, baik secara terpisah maupun secara terkombinasi sehingga mempermudah peserta didik dalam mencapai tujuan belajar atau mencapai kompetensi tertentu.
B. Apa fungsi sumber belajar?
Sumber belajar memiliki fungsi :
1. Meningkatkan produktivitas pembelajaran dengan jalan: (a) mempercepat laju belajar dan membantu guru untuk menggunakan waktu secara lebih baik dan (b) mengurangi beban guru dalam menyajikan informasi, sehingga dapat lebih banyak membina dan mengembangkan gairah.
2. Memberikan kemungkinan pembelajaran yang sifatnya lebih individual, dengan cara: (a) mengurangi kontrol guru yang kaku dan tradisional; dan (b) memberikan kesempatan bagi siswa untuk berkembang sesuai dengan kemampuannnya.
3. Memberikan dasar yang lebih ilmiah terhadap pembelajaran dengan cara: (a) perancangan program pembelajaran yang lebih sistematis; dan (b) pengembangan bahan pengajaran yang dilandasi oleh penelitian.
4. Lebih memantapkan pembelajaran, dengan jalan: (a) meningkatkan kemampuan sumber belajar; (b) penyajian informasi dan bahan secara lebih kongkrit.
5. Memungkinkan belajar secara seketika, yaitu: (a) mengurangi kesenjangan antara pembelajaran yang bersifat verbal dan abstrak dengan realitas yang sifatnya kongkrit; (b) memberikan pengetahuan yang sifatnya langsung.
6. Memungkinkan penyajian pembelajaran yang lebih luas, dengan menyajikan informasi yang mampu menembus batas geografis.
Fungsi-fungsi di atas sekaligus menggambarkan tentang alasan dan arti penting sumber belajar untuk kepentingan proses dan pencapaian hasil pembelajaran siswa
C. Ada berapa jenis sumber belajar?
Secara garis besarnya, terdapat dua jenis sumber belajar yaitu:
1. Sumber belajar yang dirancang (learning resources by design), yakni sumber belajar yang secara khusus dirancang atau dikembangkan sebagai komponen sistem instruksional untuk memberikan fasilitas belajar yang terarah dan bersifat formal.
2. Sumber belajar yang dimanfaatkan(learning resources by utilization), yaitu sumber belajar yang tidak didesain khusus untuk keperluan pembelajaran dan keberadaannya dapat ditemukan, diterapkan dan dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran
Dari kedua macam sumber belajar, sumber-sumber belajar dapat berbentuk: (1) pesan: informasi, bahan ajar; cerita rakyat, dongeng, hikayat, dan sebagainya (2) orang: guru, instruktur, siswa, ahli, nara sumber, tokoh masyarakat, pimpinan lembaga, tokoh karier dan sebagainya; (3) bahan: buku, transparansi, film, slides, gambar, grafik yang dirancang untuk pembelajaran, relief, candi, arca, komik, dan sebagainya; (4) alat/ perlengkapan: perangkat keras, komputer, radio, televisi, VCD/DVD, kamera, papan tulis, generator, mesin, mobil, motor, alat listrik, obeng dan sebagainya; (5) pendekatan/ metode/ teknik: disikusi, seminar, pemecahan masalah, simulasi, permainan, sarasehan, percakapan biasa, diskusi, debat, talk shaw dan sejenisnya; dan (6) lingkungan: ruang kelas, studio, perpustakaan, aula, teman, kebun, pasar, toko, museum, kantor dan sebagainya.
D. Apa kriteria memilih sumber belajar?
Dalam memilih sumber belajar harus memperhatikan kriteria sebagai berikut: (1) ekonomis: tidak harus terpatok pada harga yang mahal; (2) praktis: tidak memerlukan pengelolaan yang rumit, sulit dan langka; (3) mudah: dekat dan tersedia di sekitar lingkungan kita; (4) fleksibel: dapat dimanfaatkan untuk berbagai tujuan instruksional dan; (5) sesuai dengan tujuan: mendukung proses dan pencapaian tujuan belajar, dapat membangkitkan motivasi dan minat belajar siswa.
E. Bagaimana memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar?
Lingkungan merupakan salah satu sumber belajar yang amat penting dan memiliki nilai-nilai yang sangat berharga dalam rangka proses pembelajaran siswa. Lingkungan dapat memperkaya bahan dan kegiatan belajar.
Lingkungan yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar terdiri dari : (1) lingkungan sosial dan (2) lingkungan fisik (alam). Lingkungan sosial dapat digunakan untuk memperdalam ilmu-ilmu sosial dan kemanusiaan sedangkan lingkungan alam dapat digunakan untuk mempelajari tentang gejala-gejala alam dan dapat menumbuhkan kesadaran peserta didik akan cinta alam dan partispasi dalam memlihara dan melestarikan alam.
Pemanfaatan lingkungan dapat ditempuh dengan cara melakukan kegiatan dengan membawa peserta didik ke lingkungan, seperti survey, karyawisata, berkemah, praktek lapangan dan sebagainya. Bahkan belakangan ini berkembang kegiatan pembelajaran dengan apa yang disebut out-bond, yang pada dasarnya merupakan proses pembelajaran dengan menggunakan alam terbuka.
Di samping itu pemanfaatan lingkungan dapat dilakukan dengan cara membawa lingkungan ke dalam kelas, seperti : menghadirkan nara sumber untuk menyampaikan materi di dalam kelas. Agar penggunaan lingkungan sebagai sumber belajar berjalan efektif, maka perlu dilakukan perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi serta tindak lanjutnya.
F. Bagaimana prosedur merancang sumber belajar?
Secara skematik, prosedur merancang sumber belajar dapat mengikuti alur sebagai berikut:

G. Bagaimana mengoptimalkan sumber belajar?
Banyak orang beranggapan bahwa untuk menyediakan sumber belajar menuntut adanya biaya yang tinggi dan sulit untuk mendapatkannya, yang kadang-kadang ujung-ujungnya akan membebani orang tua siswa untuk mengeluarkan dana pendidikan yang lebih besar lagi. Padahal dengan berbekal kreativitas, guru dapat membuat dan menyediakan sumber belajar yang sederhana dan murah. Misalkan, bagaimana guru dan siswa dapat memanfaatkan bahan bekas. Bahan bekas, yang banyak berserakan di sekolah dan rumah, seperti kertas, mainan, kotak pembungkus, bekas kemasan sering luput dari perhatian kita. Dengan sentuhan kreativitas, bahan-bahan bekas yang biasanya dibuang secara percuma dapat dimodifikasi dan didaur-ulang menjadi sumber belajar yang sangat berharga. Demikian pula, dalam memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar tidak perlu harus pergi jauh dengan biaya yang mahal, lingkungan yang berdekatan dengan sekolah dan rumah pun dapat dioptimalkan menjadi sumber belajar yang sangat bernilai bagi kepentingan belajar siswa. Tidak sedikit sekolah-sekolah di kita yang memiliki halaman atau pekarangan yang cukup luas, namun keberadaannya seringkali ditelantarkan dan tidak terurus. Jika saja lahan-lahan tersebut dioptimalkan tidak mustahil akan menjadi sumber belajar yang sangat berharga.
Belakangan ini di sekolah-sekolah tertentu mulai dikembangkan bentuk pembelajaran dengan menggunakan internet, sehingga siswa “dipaksa” untuk menyewa internet –yang memang ukuran Indonesia pada umumnya-, masih dianggap relatif mahal. Kenapa tidak disediakan dan dikelola saja oleh masing-masing sekolah? Mungkin dengan cara difasilitasi oleh sekolah hasilnya akan jauh lebih efektif dan efisien, dibandingkan harus melalui rental ke WarNet. Bukankah sekarang ini sudah tersedia paket-paket hemat untuk berinternet yang disediakan para provider?



3
Hasil survey yang dilaksanakan pada sejumlah SD negeri dan swasta di Jawa Barat, menunjukkan, sekolah dasar pada umumnya masih kurang memanfaatkan sumber belajar dan masih bertumpu pada 'sosok' guru sebagai sumber belajar utamanya.
Dari data tersebut nampak bahwa sumber belajar masih terbatas dan belum dipandang sebagai faktor penting dalam proses pembelajaran. Para pihak yang terkait baik kepala sekolah maupun guru, biasanya berdalih karena minimnya dana di setiap sekolah. Lantas apakah dalih seperti itu sudah tepat dan persoalan menjadi selesai? Pertanyaan lain apakah sumber belajar yang dimiliki dan berada (tergelar) di masyarakat telah dimanfaatkan secara optimal? Yang jelas, sumber belajar itu sesungguhnya tidak harus mahal, mewah atau berupa barang yang sulit didapat. Akan tetapi lebih kepada sejauhmana kreativitas dan kemauan para guru untuk berinovasi dan memanfaatkan sumber belajar yang ada.
Perkembangan Keajaiban dalam Dunia pendidikan Eric Ashby (1997), seorang pemerhati pendidikan menjelaskan tahap-tahap perkembangan sumber belajar. Dia membaginya dalam empat tahap sebagai berikut :
Pertama, sumber belajar pra-guru.
Tahap ini, sumber belajar utama adalah orang dalam lingkungan keluarga atau kelompok, sumber lainnya masih sangat langka. Adapun benda yang digunakan berbentuk dedaunan, atau kulit pohon dengan bahan simbol dan isyarat verbal sebagai isi pesannya. Pengetahuan diperoleh lebih banyak dengan cara coba-coba (trial) dan error sehingga hasilnya pun masih sederhana dan mutlak di bawah kontrol orang tua atau anggota keluaga. Ciri khas dari tahap ini sifatnya tertutup dan rahasia.
Kedua, lahirnya guru sebagai sumber belajar utama.
Pada tahap inilah cikal bakal adanya sekolah. Perubahan terjadi pada cara pengelolaan, isi ajaran, peran orang, teknik dan lainnya. Jumlahnya masih terbatas dan dominannya peran guru. Begitu pula mutu pengajaran tergantung kualitas guru. Adapun kelebihannya guru dihormati dan kedudukannya tinggi sehingga menentukan keberhasilan pembelajaran. Kelemahannya bahwa jumlah siswa yang dapat dididik masih terbatas dan tugas guru sangat berat.
Ketiga, sumber belajar bentuk cetak.
Tugas guru relatif lebih ringan karena adanya sumber belajar cetak. Siswa dapat mempelajari sendiri ketika belum paham. Kelemahannya terkadang penulisan buku belum baik dan isinya sulit dipahami oleh sebagian siswa. Kelebihannya, materi dapat disebarluaskan secara cepat dan luas. Sumber belajar cetak ini meliputi buku, majalah, modul, makalah dan lainnya.
Keempat, sumber belajar produk teknologi komunikasi. Sumber ini dikenal dengan istilah audio visual aids yaitu sumber belajar dari bahan audio (suara), visual (gambar), atau kombinasi dari keduanya dalam sebuah proses pembelajaran. Istilah lain disebut juga media pendidikan yang biasanya didesain secara lebih terarah, spesifik dan sesuai dengan perkembangan siswa. Contoh sumber belajar dalam tahap ini yakni berupa televisi, CD, radio dan OHP. Secara lengkap alur perkembangan sumber belajar tersebut digambarkan sebagai berikut :

Sumber Belajar
Pra Guru Guru Media Cetak Teknologi Komunikasi Informasi
Kondisi sekolah saat ini, nampaknya masih beragam, antara perkembangan tahap kedua, ketiga dan keempat. Pada sekolah yang berada di pedalaman keberadaan guru masih dominan mengingat masih terbatasnya sumber belajar lain. Sedangkan sekolah di perkotaan sudah memanfaatkan sumber belajar media cetak terutama buku. Dan sekolah lainnya secara maksimal telah memanfaatkan produk teknologi komunikasi walaupun kuantitasnya masih terbatas.

Pengertian Sumber Belajar
Edgar Dale (1969) seorang ahli pendidikan mengemukakan sumber belajar adalah, ' segala sesuatu yang dapat dimanfaatkan untuk memfasilitasi belajar seseorang.' Pendapat lain dikemukakan oleh Association Educational Comunication and Tehnology AECT (1977) yaitu ' berbagai atau semua sumber baik berupa data, orang dan wujud tertentu yang dapat digunakan siswa dalam belajar, baik secara terpisah maupun terkombinasi sehingga mempermudah siswa dalam mencapai tujuan belajar.'
Kedua pengertian tersebut menunjukkan bahwa pada hakikatnya sumber belajar begitu luas dan kompleks, lebih dari sekedar media pembelajaran. Segala hal yang sekiranya diprediksikan akan mendukung dan dapat dimanfaatkan untuk keberhasilan pembelajaran dapat dipertimbangkan menjadi sumber belajar. Dengan pemahaman ini maka guru bukanlah satu-satunya sumber tetapi hanya salah satu saja dari sekian sumber belajar lainnya.

Jenis-jenis sumber belajar
Dari pengertian sumber belajar tadi melahirkan beberapa pembagian jenis sumber belajar. Ada yang membagi menjadi enam jenis dengan rincian pertama, sumber berupa pesan. Kedua, manusia, ketiga peralatan, keempat, bahan kelima, teknik/metode dan keenam lingkungan/setting.
Sebagian lain membaginya menjadi dua jenis, pertama sumber belajar yang dirancang (by designed) yaitu sumber belajar yang sengaja dibuat dan dipergunakan dalam suatu proses pembelajaran dengan tujuan tertentu. Contohnya buku, slide, ensiklopedi dan film (VCD). Kedua, sumber belajar yang ada di lingkungan sekitar yaitu sumber belajar yang dapat dimanfaatkan/digunakan (by utilization) berada di masyarakat dan tidak dirancang secara khusus. Contohnya pasar, tokoh masyarakat, museum, lembaga pemerintahan dsb.
Berbagai jenis sumber belajar tersebut, pada dasarnya tidak boleh dilihat secara parsial. Hendaknya dipandang sebagai satu kesatuan yang utuh dalam sebuah proses pembelajaran. Semua jenis sumber belajar yang memang sesuai, perlu dipertimbangkan demi tercapainya pembelajaran lebih baik. Dengan demikian diharapkan akan berdampak positif terhadap hasil pembelajaran.
Pemilihan Sumber Belajar
Telah kita ketahui bersama bahwa upaya untuk mengoptimalkan sumber belajar merupakan sesuatu yang penting. Mengapa? Karena dengan penggunaan sumber belajar akan dihasilkan proses pembelajaran yang berkualitas, menarik dan menyenangkan bagi para siswa.
Ada sejumlah pertimbangan yang harus diperhatikan, ketika akan memilih sumber belajar, yaitu :

1.Bersifat ekonomis dan praktis (kesesuaian antara hasil dan biaya).
2.Praktis dan sederhana artinya mudah dalam pengaturannya.
3.Fleksibel dan luwes, maksudnya tidak kaku dalam perencanaan sekaligus pelaksanaannya.
4.Sumber sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai dan waktu yang tersedia.
5.Sumber sesuai dengan taraf berfikir dan kemampuan siswa.
6.Guru memiliki kemampuan dan terampil dalam pengelolaannya.
Berbagai kriteria tersebut tidak kaku, tetapi penting untuk diperhatikan demi terwujudnya efektifitas dan efisiensi dari sumber belajar yang dipilih, sehingga betul-betul berdayaguna.
Sumber belajar yang dapat dimanfaatkan
Mengingat begitu luasnya sumber belajar, maka perencanaan yang matang mesti dilakukan. Beberapa sumber belajar yang dapat dipertimbangkan untuk dimanfaatkan adalah :

Perpustakaan
Selama ini, perpustakan di sekolah hanya sebagai pelengkap. Padahal, keberadaannya sangat penting sebagai salah satu sumber belajar. Perpustakan dapat digunakan sebagai sarana peningkatan wawasan dan pengetahuan, meningkatkan minat dan kebiasaan membaca siswa, sarana pencarian pengetahuan/informasi dan perpustakan pun dapat digunakan sebagai tempat diskusi, ajang bertukar pikiran antara kelompok belajar.
Oleh karena itu sebuah perpustakaan haus memenuhi persyaratan minimal yang meliputi, pertama, perpustakan dikelola secara baik. Kedua, tersedianya literatur (sumber bacaan) baik berupa buku pelajaran, berbagai bacaan, majalah, kamus ensiklopedi dsb. Ketiga, memiliki ruang atau tempat yang memadai dan nyaman sehingga siswa betah berlama-lama di perpustakaan. Keempat, kemudahan siswa untuk memanfaatkan segala fasilitas yang ada di perpustakaan untuk menunjang proses pembelajaran.
Beberapa sekolah menunjukkan perpustakaannya masih begitu memprihatinkan, selain terbatasnya literatur juga tempat yang dipakai nampaknya tidak layak untuk dikatakan sebagai sebuah perpustakaan (sempit, disekat meja dan tidak tertata).
Mengenai terbatasnya perpustakaan baik dari segi literatur, tempat dan pengelolaan nampaknya telah menjadi fenomena umum. Akan tetapi selama insan pendidik masih memiliki komitmen dan keinginan untuk memperbaiki dan memikirkan masalah ini, insya Allah lambat laun akan terwujud perpustakaan sekolah yang walaupun sederhana tetapi menarik bagi siswa.
Media Belajar/Alat Peraga
Media belajar yang dimaksud adalah berbagai alat, bahan yang bisa digunakan untuk membantu dalam penyamapaian materi pembelajaran. Media tersebut baik dibuat sendiri maupun kaya orang lain.
Berbagai media yang ada perlu digunakan secara optimal dan tentu saja harus dipelihara dan dijaga kelaikannya. Media yang telah rusak segera diperbaiki bahkan diganti. Media yang belum ada dan sekiranya berguna perlu dipikirkan untuk dimiliki, dengan cara membeli atau mengajukan bantuan.
Media yang perlu dipertimbangkan untuk dimiliki terutama media elektronik (produk teknologi komunikasi). Biasanya dengan menggunakan media seperti ini pembelajaran akan lebih hidup dan siswa pun lebih antusias mengikutinya. Berbagai media seperti slide film, proyektor, VCD dapat digunakan sewaktu waktu sebagai sumber belajar. Misalnya, ketika membahas materi koperasi (IPS), siswa diajak nonton slide/film yang didalamnya menjelaskan berbagai informasi termasuk praktek dan contoh kegiatan berkoperasi. Guru hanya membantu dan memfasilitasi, setelah selesai kemudian dibahas dan didiskusikan bersama-sama.
Akan tetapi, ketika media elektronik belum ada, maka lebih baik memanfatkan media dengan cara membuat sendiri walaupun sederhana. Yang terpenting media tersebut akan membantu siswa dalam memahami materi pelajaran. Sungguh disayangkan apabila guru hanya berceramah saja selain menjenuhkan, guru pun akan merasa kelelahan.
Majalah Dinding
Sumber belajar ini layak dipertimbangkan terutama bagi pembelajaran Bahasa Indonesia/Inggris. Mading dapat menjadi sarana penyebar informasi atau pengetahuan dari hasil karya siswa baik berupa karangan, puisi, cerpen dll. Di samping iu mading bisa menjadi motivasi bagi siswa untuk senang membaca, terdorong berkarya sekaligus bisa saling belajar atau menilai antar karya satu dengan yang lainnya.
Dalam pengelolaannya perlu bimbingan dan pembinaan dari guru terutama guru bahasa. Sedangkan dalam pelaksanaannya bisa dibentuk sebuah pengurus mading di tiap kelas atau tingkat sekolah. Mereka bertanggung jawab untuk mengelola mading secara baik dan berkesinambungan.
Apa sumber lainnya?
Di samping memanfaatkan sumber belajar yang ada, guru dituntut untuk mencari dan merencanakan sumber belajar lainnya baik hasil rancangan sendiri ataupun sumber yang sudah tergelar di sekililing sekolah dan masyarakat.
Sumber belajar yang dapat dimanfaatkan dan berada di masyarakat misalnya:
1.Mengunjungi museum sesuai dengan materi (museum uang, museum sejarah atau museum hewan)
2.Study tour mengunjungi gedung geologi, lembaga pemasyarakatan atau lembaga pemerintahan
3.Mengunjungi tempat ibadah, pasar, mal (tempat belanja).
4. Mendatangkan tokoh untuk diskusi (polisi dan dokter membahas narkoba, anggota DPR
membahas pemerintahan daerah dll)
Dan berbagai alternatif sumber belajar lain yang tentu masih banyak. Keberadaan guru dalam perencanaan dan pengorganisasian pembelajaran menjadi cukup penting dan akan menentukan terhadap kualitas pembelajaran. Artinya sejauhmana kemauan dan usaha guru yang bersangkutan.

Mahfud MD (Ketua MK)

Adsense Indonesia