Tampilkan postingan dengan label Hot-hot-hot. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hot-hot-hot. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 02 Juli 2011

PENCEMARAN DI PANTAI SELATAN JAWA



Seperti biasa, pada saat liburan saya mengajak keluarga ke kampung. Kampung halaman masa kecil dimana tempat bermain, bercanda dan bergembira. Salah satu tempat favorit adalah pantai selatan jawa seperti Srandil, Bunton , Widarapayung, dan Cilacap. Pantai-pantai ini dulu sangatlah indah, bersih dan nyaman. Pantai ini memberikan sebuah gambaran tentang masyarakat desa yang jujur, polos, dan bersahabat dengan alam.
Tapi semua gambaran itu sekarang sulit sekali kita jumpai. Sepanjang jalan menuju Pantai Srandil Cilacap sekarang sudah dipenuhi dengan galian pasir besi yang diangkut dengan truk-truk besar penuh syarat muatan.  Jalan desa berpasir tentu bergeombang bagaikan sebuah turunan dan tanjakan permainan halilintar Ancol. Tanah kanan kiri penuh dengan bekas galian pasir yang terisi air, dan siap menjadi bencana di masa yang akan datang. Pemandangan seperti ini menjadi sangat lumrah ketika kita terus berjalan menelusuri sepanjang jalan di sekitar pantai.
Para penggali yang pasti merupakan perusahaan besar dan tentu mendapat restu yang pemerintah daerah ini telah mengakibatkan berbagai dampak lingkungan yang sangat mengkhawatirkan. Dan ini akan menjadi masalah yang sangat serius pada beberapa tahun ke depan. Generasi penerus yang ada akan diwarisi dengan kerusakan alam yang serius.
Lebih mengejutkan lagi, jika kita tanya dengan penduduk yang ada, berapa harga pasir besi yang dikeduk dengan alat berat. Harganya hanya Rp. 21.000 per meter kubik. Sebuah harga yang sangat murah, dibandingkan dengan kerugian lingkungan yang ditimbulkan.
Ternyata kerisauan saya bukan akhir, sesampai di pantai kita akan dikejutkan dengan pencemaran pantai yang luar biasa. Dimana warna air laut tidak lagi putih, tetapi sudah coklat dan hitam. Jangan Coba-coba untuk menyentuh air laut, karena melihatnya saja sudah membuat kita takut. Rasa penasaran membuat saya semakin dekat sebenarnya apa yang terjadi. Ternyata setiap hempasan ombak memberikan busa yang berwarna kecoklatan yang saya yakini mengandung minyak atau bekas pengolahan industry yang membahayakan jika mengenai kulit.
Pencemaran ini sangat mengkhawatirkan mengingat air laut mempunyai daya urai yang luar biasa. Jika air laut saja sudah tercemar apalagi air tanahnya. Saya berusaha juga untuk membuat cekungan agar dapat menampung air laut seperti biasa orang main dipantai. Setelah air tertampung warna benar-benar coklat dan saya yakin ini pasti pencemaran lingkungan yang luar biasa.
Jika hal ini dibiarkan, mungkin dalam 5 tahun ke depan kerusakan lingkungan akan bertambah parah. Bahkan generasi yang akan datang tidak dapat lagi melihat pantai dengan air bersih. Dan juga dengan binatang pantai, atau binatang laut karena tidak mampu lagi untuk bertahan hidup.
Untuk itu saya mengharapkan kepada Pemerintah Kabupaten Cilacap, dan Pemerintah Propinsi Jawa Tengah agar memperhatikan hal ini dengan baik. Jika tidak maka kerusakan akan semakin parah. Kepada pemerhati lingkungan juga demikian hal ini harus menjadi perhatian kita bersama, bahwa bumi merupakan bumi kita, bumi masa depan, bumi anak cucu kita.
Bumi ini bukan milik para perusahaan, pemerintah yang tidak perduli, atau para penunggang politik reformasi yang mau mengambil keuntungan pribadi.

Rabu, 24 Maret 2010

Menunggu UN yang Jujur dan Kredibel

Ujian Nasional atau UN yang telah dimulai tanggal 22 Maret lalu untuk tingkat SMA dan tanggal 29 Maret untuk tingkat SMP merupakan hajat besar Departemen Pendidikan Nasional dengan kendaraan BSNP (Badan Standar Nasional Pendidikan). Meskipun UN menurut keputusan pengadilan tidak layak dilaksanakan tetap saja pemerintah “memaksa” untuk melaksanakan, bahkan tahun ini dijadikan sebagai salah satu acuan untuk masuk PTN. Gayung pun bersambut yang bertugas melaksanakan adalah para PTN, meskipun mereka masih “wait and see” apakah mereka mau menerima mahasiswa baru dari hasil UN atau tidak.
Meskipun PTN yang sebagai komponen penting dalam pelaksanaan UN, mereka masih ragu dengan hasil UN apakah memang benar-benar bersih. Janganlah mereka kami para gurupun masih ragu, apakah UN yang dilaksanakan memang bersih, jujur bersih dan kredibel. Tapi sebagai pelaksana di lapangan setidaknya semua sekolah sudah berusaha maksimal untuk melaksanakan UN sebaik-baiknya sesuai dengan POS yang telah di keluarkan Depdiknas melalui BSNP. Hal ini dapat dilihat dari pantauan yang telah dilaksanakan oleh para TPI, wartawan, atau lembaga lain yang memeloti pelaksanaan UN, bahkan petugas keamanan harus “begadang” menjaga soal UN secara ketat agar tidak “bocor”.
Pelaksanaan Evaluasi pembelajaran sebut “penilaian” menurut Undang-undang Sisdiknas dapat dilakukan oleh 3 komponen yaitu guru, lembaga dan pemerintahan. Guru melaksanakan evaluasi terhadap hasil belajar yang telah dicapai oleh siswa setelah melaksanakan PBM di kelasnya, bentuknya berupa Ulangan Blok Atau ulangan harian. Keberhasilan dari Ulangan yang diberikan di lihat dari KKM yang telah dirancang guru berdasarkan analisis Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) yang telah ditentukan pemerintah. Guru memegang peranan yang penting dalam penilaian ini, guru melakukan penilaian terhadap 3 aspek yang telah ditentukan yaitu kognitif, psikomotorik dan afektif. Penilaian ini tentu yang paling kredibel dibandingkan dengan penilaian yang lain karena gurulah yang paling tahu dengan keadaan siswa dikelasnya setiap hari.
Sebagai tanggung jawab guru harus menyusun soal sesuai dengan SK dan KD mata pelajaran masing-masing, sehingga soal yang disusun sesuai dengan tuntutan kurikulum dalam bentuk SKL. Tapi bukanlah SKL yang dituntut oleh setiap mata pelajaran sangatlah ringan, sehingga rasanya cukup mudah untuk mencapainya. Tapi apakah ini tidak terlalu ringan, dangkal bahkan hanya memenuhi sedikit sekali tuntutan kebutuhan kompetensi dibandingkan dengan masa studi anak selama 3 tahun yang harus dijalani siswa.
Penilaian berikutnya adalah penilaian yang dilakukan oleh sekolah, penilaian ini dilakukan dalam bentuk ujian semester, ujian tengah semester dan ujian akhir semester. Soal ini disusun oleh tim mata pelajaran di tingkat sekolah, soal ini juga harus disusun sesuai dengan teknik penyusunan soal yang baik, memenuhi kreteria valid dan reliable. Dari kombinasi antara hasil ulangan harian dan ujian semester, ujian tengah semester dijadikan sebagai syarat untuk kenaikan kelas. Tentunya semua ditentukan di dalam Kurikulum Sekolah.
Negara atau pemerintah juga berhak untuk melakukan penilaian dalam bentuk Ujian Nasional, Ujian Akhir Nasional atau ujian-ujian sejenis. Ujian ini disusun oleh tim ditingkat nasional. Tentunya soal ini juga harus disusun secara kredibel dengan criteria valid dan reliable serta memenuhi rasa keadilan bagi seluruh warga Negara dari Sabang sampai Merauke.
Ketika hasil UN yang dipatok minimal 5,5 oleh pemerintah, disinilah masalah mulai muncul. Pro dan Kontra terjadi. Mengapa? karena guru dan sekolah yang selama ini bergelut langsung dengan peserta didik ditinggalkan. Kelulusan dipancung ditengah jalan, sekolah tidak punya kewenangan untuk menentukan kelulusan. Di kala nilai salah satu pelajaran tidak lulus secara otomatis siswa “tewas” di tengah jalan.
Pemerintah mengatakan, kelulusan ditentukan oleh sekolah jika akan siswa yang nilainya lebih dari rata-rata yang ditentukan ternyata sekolah tidak meluluskan siswa tersebut merupakan hak sekolah. Tetapi di sekolah terjadi dilema, ujian Negara saja lulus kenapa di sekolah tidak lulus. Ini juga merupakan sesuatu yang tidak masuk di akal, kenapa kelululusan ditentukan oleh satu penilaian saja yang namanya UN, padahal anak-anak sudah belajar selama 3 tahun.
Sebagai pendidik saya termasuk yang tidak setuju jika UN dijadikan sebagai kelulusan yang mutlak, karena syarat kelulusan lain hanyalah “pemanis bibir” agar para guru dan pihak sekolah tidak “kecewa”. Seharusnya nilai UN hanya dijadikan sebagai standar proses, untuk keperluan pemetaan pendidikan. Atau dapat juga diambil jalan tengah kelulusan dikombinasikan antara nilai UN dengan nilai yang diberikan oleh guru, yang memang sangat berhak memberikan penilain dan ikut menentukan kelulusan peserta didiknya.
Dengan demikian pelaksanaan penilaian UN terlaksana dengan jujur dan kredibel. Tidak terjadi kasak kusuk dan tidak terjadi kecurangan. Apalah artinya kesepakatan “kejujuran” di saat persoalan sebenarnya tidak diselesaikan. Penyelewengan, pelaksanaan UN yang tidak jujur, tidak kredibel, dan hal negative lain dapat dikurangi dengan mendengarkan apa yang dimauni guru di lapangan, apa yang dimaui sekolah, apa yang dibutuhkan masyarakat dan apa yang dibutuhkan oleh dunia pendidikan.
Hiruk pikuk UN dan berbagai kecurangan tetap tertutup rapat dan tidak terendus dikala guru tidak dilibatkan dalam penentuan kelulusan peserta didik, disinilah sebenarnya masalah utama yang dihadapi, disaat KTSP diusung beramai-ramai, dengan dana milyaran bahkan trilyunan ternyata tidak dapat membuka mata hati kita bahwa guru sebagai garda terdepan dalam pendidikan, diacuhkan untuk sebuah UN dengan “ketidakberdayaan” yang dibuat oleh institusi pendidikan itu sendiri.
Sampai kapan UN akan kredibel dan jujur ? Saya pasti menggelengkan kepala bahkan kepala saya sampai berputar, dan saya hanya berkata dalam hati “sampai guru diberi kepercayaan penuh untuk menentukan kelulusan siswa didiknya”. Sampai UN hanya dilaksanakan sebagai standar proses dan digunakan untuk keperluan pemetaan pendidikan, dan sampai suara para guru di dengarkan oleh para pengambil kebijakan.

Sabtu, 27 Februari 2010

BELAJAR DARI KASUS CENTURY (pendidikan politik)


Sebagai guru saya tentunya jauh dari ranah politik, meskipun sekarang pendidikan pun juga sudah dimasuki ranah politik. Ketika kasus century mencuat menjadikan kita pelajaran yang cukup banyak. Hingar binger televisi mengungkap kasus tersebut menenggelamkan kasus-kasus besar narkoba yang hamper setiap hari terjadi penangkapan dengan skala besar.
Saya rakyat kecil yang biasanya Cuma berfikir yang penting makan cukup, hidup tenang, dan aman. Saya tidak pernah memikirkan dana 6,3 trilyun yang digelontorkan ke bank yang pada saat di gelontorkan toh “tidak ada yang ribut”. Dimana waktu itu para anggota DPR yang terhormat, BPK atau badan-badan sejenis. Mengapa waktu itu tidak ada penegoran terhadap menteri, presiden, wakil presiden, BI, KSSK atau pejabat lain yang terlibat dalam pengucuran dana.
Kenapa sekarang Robert Tantular sebagai orang yang paling bertanggung jawab dengan kasus itu malah tidak diutak-atik, hanya dihukum ringaan. Padahal Robert harus bertanggung jawab penuh atas bobol dan penggerogotan bank.
Pemerintah sebagai pihak yang harus menjaga stabilitas ekonomi tentu ingin landasan ekonomi yang baru saja lepas dari krisis tetapi stabil.
Jika kita bicara sekarang, maka kita sungguh sulit membanyangkan situasi yang sebenarnya. Sebagai contoh pada saat kita menanggulani keadaan, buat parit saja di depan rumah perkiraan dana yang kita butuhkan cenderung meleset meskipun sudah direncanakan dengan matang. Kenapa, setelah tanah di gali ternyata parit satunya ambruk dan tadinya tidak terlihat. Kenapa hasil dipersoalkan parit yang ambruk yang penting diperbaiki agar orang dapat lewat jalan dengan tenang.
Ketika istri kita pulang dari kantor, di pasti mencak-mencak karena pengeluarkan pembuatan parit melebihu buget yang disediakan.
Itu Biasa terjadi kan…
Saya hanya belajar dari kasus century, ternyata tidak ada kawan dan lawan yang abadi. Yang ada hanyalah kepentingan bersama. Pemimpin yang kita pilih pada saat pemilu anggota legistatif lebih senang ngobrol di depan televise, menawarkan retorika yang tentukan tidak pernah saya pahami, yang jauh dari kepentingan dan jauh dari penyelesaian.
Orang sehebat Wapres Boediono dan sekaliber Sri Mulyani yang merupakan salah satu menteri ekonomi terbaik di dunia dan dimiliki Indonesia harus di “ulek-ulek” di “jawar-jewer” Weleh weleh weleh …. Negara apa ini.
Saya di sekolah selalu mengajarkan kepada anak didik kita, bahwa menteri, DPR, Wakil Presiden, Presiden merupakan salah satu symbol Negara yang harus kita hormati, hargai dan panuti. Tapi apa yang harus kita panuti, apa memang kita salah memilih wakil di DPR.
Mbok yoo jadilah anggota DPR yang santun, jangan menuduh yang belum tentu benar, kapan Negara ini akan maju kalau hanya berkutat disitu-situ, kapan mau menyelesaikan jalan yang rusak, sawah yang kian menyempit, narkoba yang makin merajalela, tanah longsor, banjir dimana-mana.
Ini yang lebih penting Bapak-Bapak yang terhormat. Saya sunggu menyesal, hanya satu janjiku jika Boediono sampai terjungkal dari wakil presiden, maka saya tidak pernah percaya lagi dengan institusi yang namanya DPR dan tentunya saya akan Golput pada pemilu yang akan dating. Dan pendapat saya ini pasti akan diamini oleh banyak orang.
Mari belajar dari masa lalu, jadilah anggota DPR yang santun, yang memberikan tauladan, menjunjung tinggi kepentingan Negara, dan menjaga agar masyarakat tidak resah.
Ngenes aku…

Kamis, 07 Januari 2010

Angin Goerge Adi Condro Berhembus-Adi Condro Goerge wind blows



Semua orang mahfun adanya, dimana ada guna ada semut. Istilah yang sudah biasa, jika seorang berhasil maka berduyun-duyun datang keluarga, sahabat, saudara dan kerabatnya. Ini adalah manusiawi dan sebagai makhluk social adalah suatu cita-cita jika kita menduduki suatu jabatan. Semua orang pasti akan berbuat untuk menolong saudara, teman, kerabat atau orang-orang yang di kenal.
Bagaimanapun hebatnya saya, lulusan dari USA dengan predikat Cum Laude maka jika orang lain tidak mengenal diri saya, saya tidak akan pernah digunakan. Inilah pentingnya relasi, persaudaraan, pertemanan, dan perkawanan. Bukankah kita semua saudara satu bangsa, jadi siapa satu berhak mengerubuti, dan berdiri di sekitar presiden, di sekitar gubernur, atau di sekitar walikota.
Kita memang selama ini lebih senang menjadi penonton dipinggir lapangan bola, memberikan komentar pedas, tapi ketika kita diberikan bola dan turun di lapangan menendang bolapun kita tidak sanggup, apalagi membuat gol.
Tradisi kritik yang “tidak manusiawi” dan cenderung memojokan serta tidak pernah memberikan solusi adalah sifat dari manusia yang "iri" dengan sesuatu yang sedang di dapat oleh orang lain. Bekerja pada saudara, pada orang yang dikenal adalah hal yang sangat baik asalkan kita kredibel. Jika ada 3 orang yang kita kenal sama kecakapan dalam bekerja, maka kita tentu akan menggunakan orang yang mempunyai kedekatan emosial terlebih dahulu, apakah itu kerabat, suku, agama, tempat pendidikan dan sebagainya.
Tulisan-tulisan Goerge sudah terkenal sejak era Soeharto, sempat tenggelam dan tidak terdengar kiprahnya di era Habibie, Gus Dur dan Megawati. Sekarang kembali muncul ke permukaan dengan buku Gurita Cikeas. Semua orang boleh-boleh saja mengeluarkan pendapat, di era yang serba terbuka dan alam demokrasi tidak ada yang melarang. Tetapi semua harus dengan fakta yang gambling bukan Cuma mencari popularitas saja.
Kita harus hargai apa yang telah di tulis oleh Goerge, kita tinggal menilai sendiri-sendiri, apakah memang yang dituliskan olehnya benar atau hanya fitnah belaka. Dunia sudah terang benderang, semakin tinggi pohon semakin kuat terpaan angin.
Goerge adalah angin, tinggal apakah ini adalah angin putting beliung yang merusak, atau angin yang membawa awan hujan sehingga menyuburkan tanah.
Toh Cuma angin, menurut pepatah badai pasti berlalu, biarkan saja, angin akan menghilang di sela-sela bukit. Jika Goerge jadi pejabat apa yang akan dilakukan ?
Palembang, Januari 2010
==============================================================================
Mahfun everybody is, where there are no ants in order. The term that was used, if a successful then flocked family. This is a human and as social beings is an ideal if we occupy a position. Everyone would have done to help relatives, friends, relatives or people known.
After all my wonderful, graduated from USA with predicate Cum Loude so if other people do not know myself, I would never didigunakan. This is the importance of relationships, persaudaran, friendship, and brotherhood. Are not we all brothers one nation, so who swarm the right one, and stood around the president, governors around, around the mayor.
We had been more like a bystander to the ball field lane, scathing comment, but when we are given the ball and kicked down the field we are not able bolapun, let alone make a goal.
Tradition criticism that "not manusiawo" and tend to memojokan and never given the nature of the solution is a jealous man with something that was in the can by others. Working on the brothers, known to the person who is a very good thing if we are credible. If there are 3 people we know as proficiency in work, then we certainly will use people who have first emosial proximity, whether it's family, tribe, religion, place of education and so on.
Goerge writings are well known since the Suharto era, had drowned and not heard their work in the era of the Habibie, Wahid and Megawati. Now back to the surface with Cikeas Octopus books. Everyone is okay to express opinion, in the era of the all open and democratic nature nothing is banned. But all must be with the fact that gambling is not just looking for popularity alone.
We must appreciate what has been written by Goerge, we live on their own judge, whether it is written by him is true or just mere slander. The world was bright, the higher the tree the stronger the wind.
Goerge is the wind, stay if this is putting the wind picks the damage, or the wind that brings rain clouds that fertilize the soil.
After all, just the wind, according to the saying the storm would pass, let alone, the wind will disappear on the sidelines of hill. If so Goerge officials what to do?
Palembang, January 2010

Contribute a better translation

Rabu, 06 Januari 2010

Gus Dur, Guru Bangsa dan Presiden SBY - Gus Dur, Guru Nation and President SBY

Ketika orde baru kita mengenal Gus Dur adalah orang selalu dipinggirkan, bahkan berusaha di jauhkan dari NU. Padahal NU, PKB dan Gus Dur adalah sebuah fenomena setiga sama kaki. Dimana satu sama lain tidak dapat dipisahkan, dimana Gus di sana NU, dimana PKB juga merupakan anak emas dari NU. Gus Dur, NU dan PKB adalah sisi-sisi yang tidak terpisahkan, maka suatu hal yang sangat disayangkan ketika Gus Dur harus terpinggirkan dari PKB. Ehh Kok ngelantur, bukanlah itu urusan dunia yang tidak pernah dipersoalkan Gus Dur, jangankan hanya di gusur dari PKB, ketika Gus Dur ditumbangkan dari Presiden secara instusional Gus Dur pun tetap adem ayem, tidak menggunakan dan tidak menggerakan massa untuk demo padahal Gus Dur punya massa dari NU yang sangat besar.

Berbicara Gus Dur berbicara tentang fenomena langka, orang yang cerdas, humanis dan suka ger-geran. Kadang kita sulit mengikuti jalan pikirannya, bahkan mungkin bingung karena kita tidak pernah berfikir sejauh yang dipikirkan Gus Dur.
Coba lihat pengangkatan Menteri Pertahanan pada masa beliau jadi presiden, dari sejarah panjang bangsa kita kaplingan ini adalah milik tentara, tetapi Gus Dur membalikan fakta bahwa tidak ada yang mutlak, yang akhirnya diduduki oleh seorang Manfud MD, bahkan Manfud MD pun bingung kenapa seorang sipil yang tidak berlatar belakang militer sama sekali menjadi menteri pertahanan.
Pada masa Gus Dur jadi presiden juga terjadi fenomena baru dimana penghapusan Departemen Sosial, penetapan hari raya imlek, sampai mencoba menjalin hubungan dengan Israel.
Ketika semua orang ribut, maka Gus Dur pun menjawab begitu saja kok repot, dengan suara yang khas. Gus Dur memberikan pelajaran bahwa masalah-masalah harus diselesaikan bukan cuma diomongin, tidak suka demo anarkis yang hanya membuat orang susah.
Besarnya kharisma Gus Dur bahkan sampai beliau berpulang, banyak orang ingin memanfaatkan nama besarnya untuk kepentingan pribadi, dan politiknya. Sebut saja wasiat Gus Dur yang menyatakan Presiden SBY harus mundur paling lambat tanggal 26 Januari 2010. Atau ketika katanya Gus Dur di kabarkan di bunuh, karena meninggal usai di jenguk SBY. Sebuah preseden buruk bagi bangsa Indonesia, dimana ditengah era teknologi dan keterbukaan, masih ada saja yang memanfaatkan nama besar Gus Dur yang sudah berpulang.
Gus Dur yang besar, mempunyai pemikiran maju, tidak akan memiliki pemikiran nyeleneh menjatuhkan SBY meskipun banyak ide yang nyeleneh, untuk apa Gus Dur menyatakan SBY harus mundur, atau lembar handuk. Gus adalah seorang demokrat yang pasti sangat paham, bahwa SBY adalah presiden yang kredibel dipilih oleh rakyat. Jika ingin menurunkan SBY, tanyakan ke rakyat apakah setuju.
Gus Dur rela meninggalkan istana dengan kesederhanaannya, demi keutuhan bangsa, ini nenandakan apa yang diungkapkan hanya rumor yang dilemparkan pihak-pihak tertentu dengan menggunakan momentum meningglkan Gus Dur yang memanfaatkan rasa emosional warga NU atas meninggalnya Gus Dur.
Guru bangsa yang telah memberikan banyak pelajaran dan inspirasi tentang plurarisme, keanekaragamanan dan persamaan antar sesama.
Banyak pihak kadang berfikir terlalu berlebih-lebihan atau memang mengambil kesempatan dalam kesempitan dengan kebesaran nama Gus Dur.
Menjelang 7 hari Gus Dur ada orang-orang yang tidak masuk akal, mengambil tanah dimakan Gus Dur sebagai jimat. Hal musrik yang tidak boleh dilakukan oleh orang Islam.
Banyak orang yang tidak masuk akal, di kala di larang malah dilakukan, di kala disuruh maka bermalas-malasan. Sungguh budaya yang tidak perlu dipertahankan, kembalikan pada jalan yang benar sebagai bangsa yang berbudi luhur menghargai Guru Bangsa, menghargai nama besarnya. Gus Dur adalah milik Negara kita, kita wajib menjaga nama baiknya. Apakah Mungkin Gus Dur memaksa SBY untuk mundur, Tidak mungkin Gus Dur seperti itu, sekali lagi tidak mungkin.
============================================================================
When the new order we know Gus Dur is always marginalized, even tried the move from NU. Though NU, PKB and Gus Dur is an isosceles setiga phenomenon. Where to each other can not be separated, where there Gus NU, where PKB is also the golden boy of the NU. Wahid, the NU and PKB are sides that are not integral, then a very unfortunate thing when Gus Dur must be marginalized from the PKB. Kok digress Ehh, not the world's affairs that never questioned Wahid, let alone only in gusur of PKB, as Gus Dur is overthrown by President Wahid instusional remained cool calm, do not use and do not move the masses to a demo when Gus Dur has a mass of a very large NU.
Wahid spoke to speak about the rare phenomenon, an intelligent, humane and like ger-Geran. Sometimes it is hard to follow his thinking, perhaps even confused because we do not even think of thinking as far as Gus Dur.
Take a look at the appointment of Minister of Defense at the time he became president, from the long history of our nation belongs kaplingan soldiers, but Wahid did not reverse the fact that there are absolute, which eventually occupied by a Manfud MD, MD Manfud was even confused about why a civilian who no military background at all to be minister of defense.
During the president Gus Dur is also a new phenomenon in which the elimination of the Department of Social, determination imlek holidays, until trying to establish relations with Israel.
When all the noisy people, the answer was Gus Dur's all so messy, with a distinctive voice. Gus Dur to teach that problems should be solved not just diomongin, anarchists do not like the demo that just makes people difficult.
The amount of charisma Wahid even he passed away, many people want to use big names for their personal and political. Call it a testament Gus Dur said President Yudhoyono had to resign no later than January 26, 2010. Or when he says Gus Dur in the killing proclaim, because the dead after the visiting SBY. A bad precedent for the Indonesian nation, amid an era where technology and openness, there was just a great use of the name Gus Dur who had passed away.
Wahid's big, has a forward thinking, would not have thought dropping SBY nyeleneh although many ideas nyeleneh, to what Gus Dur said SBY should resign, or towels. Gus is a democrat who would have been understood, that SBY is a credible president elected by the people. If you want to reduce SBY, ask the people whether the agreement.
Gus Dur would leave the palace with its simplicity, for the integrity of the nation, what is disclosed nenandakan rumors thrown only certain parties to use the momentum meningglkan utilizing Wahid of NU's emotional sense of the death of Gus Dur.
Teacher nation that has provided many lessons and inspiration on plurarisme, diversity and equality of others.
Many people think too much sometimes exaggerated or simply take a chance in the narrowness of the greatness of the name of Gus Dur.
By the 7th day Wahid there are people who do not make sense, take the land Wahid eaten as a talisman. It should not musrik done by Muslims.
Many people who do not make sense, at times in fact be prohibited, at times it is told to stand idly by. It's a culture that does not need to be maintained, back on the right as a virtuous nation National Teachers appreciate, appreciates name. Gus Dur is owned by the State, we must maintain his good name. Would probably SBY forced Wahid to resign, can not be like that Gus Dur, once again not possible.

Senin, 14 Desember 2009

Memperbaiki Ambuknya Citra Polisi - Improve Police Image collapse

Sebagai warga Negara tentu kita mengharapkan agar penyelenggara Negara dan pejabat Negara adalah orang-orang yang punya integritas dan punya loyalitas terhadap bangsa dan Negara Indonesia. Dengan orang-orang yang berjuang tanpa pamrih dan mendapat imbalan sesuai dengan jasa dan keringatnya saja menjadikan suatu Negara menjadi kuat, tidak terkecuali dengan Indonesia.
Lemahnya penegakan hokum, hokum hanya mengenai orang-orang yang makan tempe, sedangkan orang-orang yang biasa makan dapat sulit sekali tersentuh hokum. Tahun ini merupakan titik nadir dari jatuhkan aparat hokum di Indonesia. Polisi tidak lagi dipercaya karena mereka seolah identik dengan korupsi dan rekayasa kasus. Dari kasus maling ayam sampai ke kasus ngemplang duit milyaran sulit sekali jika sudah berhadapan dengan polisi. Saking jengkelnya masyarakat ada yang mengatakan jika kita kehilangan ayam, maka jika berurusan dengan polisi akan kehilangan kambing.
Hal ini, dilandasi oleh beberapa factor, dimana sudah menjadi rahasia umum sulit sekali mencari polisi yang jujur, karena perekrutan, pendidikan, naik pangkat dan jabatan dan apapun selalu ada permainan baik “jasa pelicin” maupun “kolega orang hebat”. Ambruknya citra polisi di masyarakat harus segera di angkat jika martabat bangsa dan Negara ingin di tegakan baik di dalam maupun di luar negeri.
Polisi harus mampu mereposisi diri bahwa begitu jeleknya image polisi di benak masyarakat, darimana harus memulai ?, Sebuah pertanyaan yang mudah diucapkan tetapi sangat sulit dilaksanakan. Berbagai elemen sudah terjangkit, cara yang paling baik adalah bersama-sama dan dimulai dari lini paling atas “Kapolri”, kita membutuhkan seorang Kapolri yang mampu mengendalikan anak buahnya.
Kapalri harus mampu menindak tegas semua anak buahnya tidak bekerja tidak sesuai dengan hokum dan moral, serta etika. Saya sungguh merasa heran seorang yang mengambil kapuk bekas panen harus menjalani hukuman dan di tahan, apakah kapolres tidak mengontrol anak buahnya apakah kasus itu layak atau tidak, Meskipun barang bukti ada tetapi jika dicari jalan damai, maka tidak perlu disorot media secara fulgar dan semakin menjatuhkan martabat polisi yang seorang tidak punya hati nurani.
Saatnya polisi juga bekerja dengan hati, mana yang biasa berbuat jahat, siapa yang jahat terpaksa. Siapa yang dapat menguntungkan jika di bawah ke meja hijau dan mana yang tidak mengungkan, tentu sebagai ajang mengangkat citra polisi di mata masyarakat.
Penggembosan citra polisi yang sedemikian rupa, memang harus diperbaiki dari dalam, tidak ada kata lain, kecuali karena kecintaan saya terhadap institusi yang sangat sangat banggakan. Saya benar-benar mengharapkan polisi yang ramah, polisi yang berwibawa dan polisi yang mempunyai citra baik di mata masyarakat Indonesia dan Masyarakat Internasional.

Selasa, 27 Oktober 2009

Penguasaan Materi Guru SD Rendah

Sekitra 77,85% guru Sekolah Dasar tidak layak menjadi guru karena tidak memiliki kualifikasi pendidikan sesuai dengan amanat Undang-Undang yaitu S1. Di samping itu penguasaan materi guru sekolah dasar juga masih sangat rendah, hal ini ditunjukan dengan hasil tes rata-rata guru SD dan TK rata-rata 34,26. Dengan tes yang serupa untuk tes tersebut memberikan hasil antara 40,15 - 22,33. Sungguh sebuah hasil yang sangat memprihantikan.
Dengan hal tersebut mendorong Depdinas berusaha keras untuk mendorong kemampuan guru SD dan TK akan mampu untuk meningkatkan kemampuannya salah satunya dengan jalan peningkatan kualifikasi pendidikan.
Hal ini diperparah dengan tingkat kesadaran guru untuk mencari dan menambah pengetahuannya dalam meningkatkan profesionalismenya karena berbagai alasan. Alasan yang selalu dimunculkan kesibukan, mencari tambahan penghasilan, keadaan, dan lingkungan yang tidak mendukung.
Guru tidak mau berubah dengan paradigma lama yang menganggap dirinya paling tahu, dan tidak pernah mengupdate pengetahuannya dengan belajar dari berbagai sumber, seperti internet, televisi, radio atau buku terbaru.
Hal ini semestetinya dapat diatasi dengan adanya KKG ditingkat Kecamatan atau Kabupaten. KKG dapat membuka wawasan para guru untuk meningkatkan kemampuan dalam mengajar. KKG saat seperti mati suri, hidup segan mati tak mau. Guru tidak menyadari bahwa dengan adanya KKG akan meningkatkan kemampuan dalam berbagai bidang. Alasanya guru tidak mengikuti KKG pun macam-macam, karena tidak ada pendanaan dari pemerintah, tidak ada yang mengkoordinir, tidak ada fasilitator dan sebagainya.
Hasil tes yang begitu mengkawatirkan menjadikan kita harus berfikir keras untuk meningkatkan kemampuan guru SD dan TK dalam rangka meningkatkan pendidikan di Indonesia.
Di luar Jawa keadaan lebih parah lagi karena akses satu sekolah dengan sekolah yang lain cukup jauh. Belum lagi sebuah sekolah yang berada di daerah terpencil yang hanya memiliki seorang kepala sekolah, sekaligus guru, sekaligus penjaga sekolah, sekaligus tu dan lain-lain, alias satu sekolah hanya satu guru.
Apakah sekolah seperti ini dapat maju, perlu sebuah keberanian besar dari pemerintah pusat, pemerintah provinsi dan kabupaten untuk "memaksa" adanya pemerataan guru ke daerah tertentu.
Pemberian tunjangan profesi dengan 24 jam tatap muka adalah solusi, setiap guru yang tidak memenuhi jam tersebut wajib mencari tambahan mengajar di sekolah lain yang masih satu kabupaten / kota sehingga dengan demikian guru di tempat lain dapat terpenuhi.
Secara rasio banyak kabupaten / kota yang sudah kecukupan tetapi di lapangan masih saja kekurangan guru. Hal ini dipastikan karena ketidakmerataan penempatan guru.
Ayo... benahi guru SD dan TK Kita dengan memberikan pelatihan, pendidikan, dan pemerataan serta peningkatan kesejahteraan.

Oktober Banyuasin, 2009

Senin, 12 Oktober 2009

Kematian Syaifudin Jaelani, Kecemasan Densus 88

Berbeda dengan Noordin M. Top yang mampu bersembunyi dari kejaran Polisi Indonesia, lebih dari 5 tahun. Yuniornya Syaifudin Jaelani tidak lebih dari 2 bulan. Syaifudin sudah tertembak densus 88. Ada perbedaan yang mencolok kemampuan Noordin dan Syaifudin dalam menyembuyikan diri. Disinyalir ini perbedaan antara anggota JI yang berlatar belakang akademisi dan basis militer dengan pendidikan murni.
Syaifudin Jaelani dan Noordin memang berbeda pekerjaan. Lihat saja cara noordin berpindah bisa ke Palembang, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Kalimatan, Sulawesi. Dibandingkan Syaifudin yang hanya berkutat di sekitar Jakarta. Kemampuan diplomasi Syaifudin memang menurut informasi lebih baik daripada Noordin, akan tetapi kemampuan militer noordin jauh lebih baik. Ini yang mengakibatkan noordin bertahan lebih lama daripada Syaifudin.

Secara kultur kedua orang ini memiliki kultur yang berbeda, noordin jelas lebih militan karena tidak memiliki latar belakang psikologis, karena ia berkembangsaan Malaysiia, sedangkan Syaifuddin tulen Indonesia.
Syaifudin adalah nama baru yang dan sistem sel yang terputus menjadikan antar kelompok mereka tidak saling kenal. Dan kemungkinan sel Syaifudin juga merupakan bagian sel kecil saja, sehingga tidak mampu bergerak pada lingkungan yang lebih besar.
Setelah kita berkutat lama dengan terorisme, dan kebrutalan bom yang terus merenggut nyawa banyak orang kita patut merenung pada diri kita mengapa hal ini masih saja terjadi. Korban baik dari orang-orang yang dianggap teroris, atau orang lain yang terkena imbas dari pengeboman terus berjatuhan. Di antara mereka ada yang muslim, ada yang hindu ada yang kristen, ada yang muda dan ada yang tua. Mereka menjadi korban dari sengketa yang tidak berujung.
Pemerintah perlu mengambil jalan tengah agar terorisme tidak terus bermunculan. Mengapa??
Aksi kekerasan yang di balas dengan kekerasan tidak pernah akan habis, Densus 88 akan selalu berhadapan dengan pihak-pihak yang disebut teroris. Pemberitaan yang terlalu mendeskriditkan pada umat Islam harus segera dikurangi dan perlu berita berimbang.
Semua yang terjadi perlu dicari akar permasalahannya, apakah ketidakadilan, atau memang ada pihak-pihak lain yang ingin bermain di Indonesia.
Indonesia merupakan negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, umat Islam tidak bisa di pisahkan dengan negara Indonesia. Karena kebesaran hati umat Islam maka negara ini bisa berdiri tegak.
Dengan menelusuri benang merah yang sangat panjang, tentu akan lahir suatu penyelesaian.
Bergabungnya berbagai komponen anak bangsa seperti NII, radikalisme, terorisme dan pahan-pahan lainnya, perlu solusi.
Apa yang sesungguhnya mereka mau?
Apa sesungguhnya yang mereka raih?
Apa sesungguhnya fatwa mereka benar?
Apa sesungguhnya pemerintah melakukan kesalahan?
Apa sesungguhnya aparat yang korup?
Apa sesungguhnya penyelesaian kerusuhan Ambon, Sampit, Poso yang tidak adil?
Apa karena pemimpin yang tidak melihat kemiskinan?
Atau Apa karena-karena yang lain?

Bagi orang-orang yang saat ini dicap sebagai teroris, juga perlu menahan diri. Mari kita duduk bersama. Jangan korbankan orang-orang yang tidak berdosa.

Pemerintah juga demikian ajaklah mereka turun dari lubang-lubang persembunyian, untuk berbicara apa sebenarnya yang dinginkan?
Pengejaran secara terus menurus akan melahirkan Amrozi, Imam Samudra dan Saifudin yang baru yang mungkin jumlahnya akan terus bertambah.
Anggota Densus 88, juga warga Indonesia, yang pasti mereka akan was-was, karena mereka sendiri mungkin menjadi sasaran korban berikitnya.
Mengapa kita harus saling membunuh, sesama anak bangsa?
Tentu Masih ada jalan lain yang lebih baik!
Bukanlah Rasulullah selalu menasehatkan kepada kita tentang, rahmatan lil alamin. Semoga Syaifudin merupakan korban terakhir, dan bom tidak lagi menyalak. Karena semua akan membawa kecemasan kita semua, kecematan densus 88, kecemasan orang-orang yang melakukan pengebonan, keluarga yang tinggalkan.

Selamat tinggal kekerasan, selamat datang perdamaian. Mari kita bangun Indonesia dengan damai. Semoga

Jumat, 18 September 2009

Akhir Pelarian Noordin M. Top

Akhirnya Noordin M. Top tewas, tentu berita ini merupakan berita yang menggemberikan bagi bangsa Indonesia, tak sungkan Kapolri langsun menghadap Presiden SBY. Presiden memberikan aprisiasi yang luar biasa, maklum 9 tahun melalang buana di dunia teror Indonesia Noordin sudah banyak meluluh-lantakan perekonomian Indonesia. Ini patut kita syukuri bahwa teror bertentangan dengan Islam, Islam adalah cinta damai. Lihatlah bagaimana Rosulullah berdakwah dengan lemah lembut karena Islam memang Rahmatan lil alamin. Jadi penyebaran teror adalah sesuai yang bertentangan dengan Islam, apalagi menyebarkan teror di Indonesia yang mayoritas agama Islam. Bukankah kita pernah mendengar kata-kata dari Allah "Hampir-hampir aku marah, akan dibalikan bencana di muka bumi ini, akan tetapi aku mengurunkan niat itu ketika aku dengan bayi-bayi yang menangis, suara-suara azan dan orang tua yang pergi ke masjid untuk beribadah". Dari ini Allah jelas mencintai perdamaian, mengebom adalah perusakan dan Allah tidak menyukai hal-hal tersebut. Apakah yang orang Amerika, Inggris, atau sekutunya???? Kebanyakan yang mati adalah orang Indonesia, saudara kita, teman kita, tetangga kita, anak-anak kita, generasi muda kita.

Keadaan sebaliknya terjadi di Malaysia, mereka sedang berkabung. Menteri dalam negeri Malaysia juga menyesalkan kematian Noordin M. Top, karena Noordin sudah banyak berjasa untuk negara Malaysia, ia adalah pahlawan Malaysia. Dengan teror yang dilakukan maka Malaysia mendapat keuntungan karena dengan tidak amanya Indonesia, maka investor dan wisatawan lebih memilih Malaysia sebagai tempat tujuan dan investasi.
Malaysia sudah cukup banyak melakukan provokasi terhadap Indonesia, berbagai klaim yang dilakukan terhadap budaya dan wilayah Indonesia menunjukan bahwa Negara jiran ini patut kita curigai.

Jangan terlalu silau dengan promo-promo pendidikan atau apapun dari Malaysia, serumpun kita yang congkak. Mengapa harus belajar ke Malaysia, pendidikan Indonesia jauh lebih maju. Lihat Apakah terdengar juara olimpiade dari Malaysia????, di Malaysia sekolah masih dobel ship, di Indonesia sudah ditinggalkan 10 tahun yang lalu...
Bagaimanapun Indonesia tidak dapat di bandingkan dengan Malaysia. Semoga kematian Noordin M. Top yang dicurigai intl. Malayasia dapat mengubah keadaan.
Jika nanti muncul lagi teror dari orang berkewarganegaraan Malaysia sudah di pastikan ini adalah kesengajaan yang dilakukan secara terstruktur. Kita lihat saja siapa pengganti Noordin M.Top

Kamis, 27 Agustus 2009

Siapa Noordin M. Top


Orang Ini Sangat Berbahaya
Tangkap.......

Licinnya Noordin M.Top yang selalu lepas dari sergapan polisi perlu mendapatkan perhatian bagi kita semua. Noordin adalah musuh negara yang harus segera ditangkap. Sudah cukup banyak korban akibat dari ulah Noordin dan anak buahnya. Apakah Noordin benar-benar seorang pembela ISLAM SEJATI. Saya sangat meragukan hal ini, secara hirarki beberapa teroris yang ada di Indonesia mempunyai hubungan dengan mendiang Dr. Azhari dan Noordin M. Top. Keduannya adalah warga negera Malaysia yang masuk ke Indonesia secara ilegal.
Mereka berdua membuat kekacauan di Indonesia, sedangkan yang menjadi sasaran adalah Inggris, Amerika dan sekutunya. Timbul pertanyaan dalam benak saya selama ini, mengapa harus melakukan di Indonesia, bukan di asal negaranya yaitu Malaysia, bukankan negara ini merupakan eks koloni Inggris dan merupakan negara persemakmuran, yang dapat dipastikan di negaranya banyak sekali investor dari Inggris dan kroninya. Bukankah di Malaysia lebih banyak perusahaan asing, kenapa harus di Indonesia.

Hal ini yang perlu dipertanyaan dan menjadi kajian bagi kita bangsa Indonesia, Negara Malaysia yang tidak tahu malu sudah berkali-kali mau mencaplok wilayah, budaya dan pengaruhnya di Indonesia. Mereka sangat iri dengan keadaan Indonesia. Perkembangan Indonesia akan menjadi momok yang manakutkan dunia termasuk Malaysia. Kenapa?
Indonesia memiliki potensi ilmu pengetahuan, sumber daya alam, sumber daya manusia dan sumber daya teknologi yang jauh lebih hebat dari Malaysia.

Dari beberapa kasus seperti teror, merebut pulau, menggunakan kebudayaan. Terlihat hubungan dan bermuara pada Malaysia, sehingga perlu dicurigai bahwa Malaysia terlibat dalam kasus-kasus teror di Indonesia.
Tujuannnya jelas, negara Malaysia tidak mampu bersaing dengan budaya Indonesia, mereka hanya mengandakan tempat wisata berupa gedung, dan tempat-tempat perjudian sebagai daya pikat.

Dengan majunya Indonesia, maka investor akan lebih memilih Indonesia daripada Malaysia karena jauh lebih menguntungkan. Lalu hubungannya dengan Noordin M.Top. Licinya Noordin dan banyaknya uang yang dimiliki Noordin, diperoleh dari mana???? Kalau tidak ada informan dan dukungan yang lebih besar dari kemampuan polisi.
Saya beranggapan bahwa Noordin adalah intelegen Malaysia yang disusupkan di Indonesi dengan dalih Jihad, padahal sesungguhnya ingin menghancurkan ekonomi Indonesia. Dengan image tidak amanya Indonesia, Malaysia menangguk keuntungan karena wisatawan tidak datang ke Indonesia tetapi memilih Malaysia yang agak-agak mirip.

Sudah saatnya kita sebagai warga negara sadar untuk tidak mendukung Noordin M. Top, yang benar-benar meluluh-lantakan ekonomi Indonesia. Bukankaah setiap aksi yang dilakukan selalu mengguncang ekonomi Indonesia.
Jihad yang didengungkan oleh Noordin adalah dusta besar, Islam adalah agama damai, Indonesia juga mayoritas Muslim yang cinta damai. Saya mengajak para generasi Islam, Noordin adalah musuh kita, musuh bangsa dan musuh masyarakat yang harus di tangkap hidup atau mati.
Hiduplah Indonesia Raya.
Palembang, Ramadhan, 2009

Mahfud MD (Ketua MK)

Adsense Indonesia