Tampilkan postingan dengan label Model-Model Pembelajaran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Model-Model Pembelajaran. Tampilkan semua postingan

Selasa, 21 Juni 2011

Model PAIKEM


Seperti telah disinggung di atas bahwa kemampuan guru dalam proses pembelajaran yang meliputi persiapan, pelaksanaan dan penilaian mempunyai peran sangat penting dalam rangka mencapai kompetensi yang telah ditetapkan. Sebenarnya ada dua tugas guru yang penting yaitu mendidik dan mengajar. Mendidik lebih menekannya pada perubahan sikap dan tingkah laku. Sedangkan mengajar lebih menekankan pada transfer of knowledge. Pendidikan yang sedang dikembangkan oleh bangsa Indonesia adalah pendidikan berkarakter. Pendidikan berkarakter merupakan pendidikan yang tidak melupakan akan budaya bangsa yang kaya raya ragam budaya. Budaya ramah-tamah, sopan-santun, bermusyawarah mufakat, dan cinta produk lokal.
Untuk menciptakan proses pembelajaran yang menyenagkan salah satu cara yang dilakukan adalah dengan memperbaiki pola guru mengajar. Guru harus segera meninggalkan cara-cara konvensional dan menggunakan berbagai sumber belajar agar proses pembelajaran pembelajaran. Dengan demikian proses pembelajaran menjadi menyenangkan baik bagi siswa maupun bagi siswa. Salah satu proses yang saat ini dikembangkan adalah PAKEM atau PAIKEM. Proses pembelajaran PAIKEM (Pembelajaran Aktif, Interaktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan) secara lengkap dapat dilihat seperti berikut ini.
a.      Aktif, sebuah proses pembelajaran harus melibatkan siswa, sehingga siswa merasa bagian dari proses pembelajaran. Siswa terlibat secara langsug melibatkan berbagai panca indera baik visual, audio maupun kinestetik.
b.      Interaktif, sebuah proses pembelajaran juga harus terjadi interaksi antara siswa dengan siswa, siswa dengan guru.
c.       Kreatif, proses pembelajaran juga harus memberikan dan menghasilkan hal-hal yang baru. Siswa harus berusaha dengan berbagai cara agar Kompetensi yang telah ditentukan dapat dicapai. Guru juga harus menggunakan berbagai cara, teknik, metoda, media, dan model pembelajaran agar semua peserta didik dapat mencapai KKM yang telah ditentukan sesuai dengan prinsip pembelajaran tuntas (mastery learning).
d.      Efektif, proses pembelajaran juga harus berlangsung secara efektif. Tepat sasaran apa saja yang harus dicapai dalam proses pembelajarn. Dalam KTSP sudah jelas, bahwa yang harus dicapai adalah Kompetensi Dasar dan Standar Kompetensi yang tergambar dalam KKM yang telah ditentukan oleh guru.
e.      Menyenangkan, proses pembelajaran juga harus menyenangkan baik siswa maupun guru. Siswa harus masuk ke kelas dengan senang, merindukan gurunya yang tidak hadir di kelas, bosan menunggu libur untuk sekolah. Demikian juga dengan guru, guru selalu rindu dengan siswa yang badanya selalu condong ke depan dalam proses pembelajaran karena rasa ingin tahunya, siswa yang berebut maju ke depan untuk mengerjakan PR, atau siswa yang selalu masuk kelas dengan perasaan gembira. Proses pembelajarn seperti ini dapat terjadi jika guru menggunakan berbagai cara, teknik, media, khususnya media-media yang menarik. Seperti yang digambarkan dalam Quantum Teaching and Learning, bawalah dunia kita ke dunia mereka dan bawalah dunia mereka ke dunia kita. Artinya guru harus memahami secara psikologis keadaan peserta didik di kelas yang diampunya.

Kamis, 25 Maret 2010

Model Pembelajaran Make And Match (Mencari Pasangan)

Model ini merupakan model yang dikembangkan oleh Lorna Curran, 1994. Sebagaimana model yang lain, model ini merupakan model pembelajaran berkelompok (Learning Community). Model ini dapat membangkitkan semangan siswa dengan mengikutsertakan peserta didik untuk aktif dalam proses pembelajaran.
Pembagian kelompok dalam Make And Match ada dua kelompok yaitu kelompok pemegang masalah dan kelompok pemegang jawaban. Make And Match dapat dilakukan untuk semua mata pelajaran dan pada semua tingkat pendidikan mulai dari SD sampai SMA.
Persiapan awal yang harus dilakukan dalam model pembelajaran ini guru harus memberitahukan apa saja yang harus dipelajari pada pertemuan selanjutnya. Dengan demikian siswa mempunyai modal mempunyai modal awal dalam pembelajaran. Dengan modal awal materi pelajaran maka proses diskusi dalam pembelajaran Make And Match dapat berlangsung dengan baik.

Secara rinci langkah dalam pembelajaran Make And Match adalah sebagai berikut.

Langkah-langkah :
1. Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep atau topik yang cocok untuk sesi review, satu bagian kartu soal dan bagian lainnya kartu jawaban. Kartu-kartu ini harus dirancang sedemikian rupa sehingga kartu menarik perhatian siswa. Kita dapat menggunakan gambar kartun, atau gambar dari majalah, internet atau sumber lain untuk sebagai materi. Guru dapat juga menyiapan tulisan-tulisan dalam kartu yang dirancang sedemikian rupa sehingga mudah untuk dipahami dan dimengerti oleh siswa. Tentukan bahasa yang digunakan harus disesuaikan dengan tingkat pendidikan. Secara standar gunakan bahasa Indonesia yang baik yang benar.
Jika materi ada kaitannya dengan gambar, bagan, skema, dibuat sedemikian rupa jelas.
Materi dapat juga dibuat dalam bentuk pertanyaan atau soal, yang berkaitan dengan tuntutan SK atau KD yang telah ditentukan. Soal disusun sedemikian rupa secara berjenjang dari C1 sampai dengan C6 atau dari P1 s/d P4.

2. Setiap peserta didik mendapat satu kartu
Sebelum kartu dibagikan kita harus mengelompok siswa dalam dua kelompok yaitu yang memegang kartu permasalahan atau materi dan memegang kartu jawaban. Setiap kelompok ini dikelompokan lagi menjadi sesuai dengankemampuan dan tingkat kesulitan masalah yang dihadapi. Siswa yang berkemampuan tinggi akan dibagian kartu dengan tingkatan kognitif yang lebih tinggi, demikian juga sebaliknya.
Pembagian kartu harus dibuat secara acak tetapi teratur sesuai dengan tingkatan masing-masing.

3. Tiap peserta didik memikirkan jawaban/soal dari kartu yang dipegang
Pada saat kartu dibagikan, beri mereka waktu antara 10 menit sampai dengan 15 menit untuk memikiran permasalahan dan jawaban masing-masing dari kartu yang mereka pegang. Mereka dapat mendiskusikannya dengan anggota kelompok sesame pemegang kartu, mencarinya di buku, internet, peta, globe, kamus , catatan atau sumber belajar lain yang digunakan pada saat itu. Berikan kesempatan agar semua dapat memikirkan soal dan jawaban pada setiap permasalahan yang ada.

4. Setiap peserta didik mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan kartunya (soal jawaban)
Setelah persoalan dipecahkan, peserta didikan saling mencari pasangan. Agar tidak terjadi kekacauan dapat dicari secara bergiliran dengan memberikan kesempatan satu persatu kepada siswa untuk membacakan soal atau permasalahan atau materi, setelah itu dapat mencari pasangan masing-masing.
Waktu pencarian diberikan waktu misalkan ada 10 persoalan maka point diberikan 10 s/d 1. Siswa yang menemukan pasangan pada 1 menit pertama diberi skor 10, pada 2 menit pertama di beri skor 9, pada 3 menit pertama diberikan skor 8 dan seterusnya. Sampai dengan 10 menit terakhir. Atau dapat juga setiap pasangan yang menemukan pasangan diberi skor 1.
5. Setiap peserta didik yang dapat mencocokkan kartunya sebelum batas waktu diberi poin
Point dapat diberikan sesuai dengan metoda di atas, dengan memberikan skor secara bertingkat atau dengan memberikan skor 1 dan 0, siswa yang dapat menemukan pasangan sesuai dengan waktu yang diberikan di beri skor 1 dan yang tidak berhasil menemukan jawaban diberi skor 0.

6. Setelah satu babak kartu dikocok lagi agar tiap peserta didik mendapat kartu yang berbeda dari sebelumnya. Selanjutnya kartu di kocok dan diberikan secara acak sesuai dengan tingkatan kemampuan masing-masing. Kembali diberi keseempatan dalam kelompok, jika anggotannya lebih dari 1 orang. Kemudian kembali ke langkah 4 dan 5.
7. Demikian seterusnya, lakukan secara berulang sampai waktu pembelajaran selesai. Siapa saja yang menjadi juara berilah mereka apresiasi, agar di lain kesempatan lebih baik. Berilah motivasi bagi yang belum berhasil.

8. Kesimpulan/penutup . Setelah selesai buatlah kesimpulan secara bersama-sama.

Oke sampai jumpa lagi salam dari kami di Banyuasin. Majulah terus pendidikan di Indonesia.

Rabu, 24 Februari 2010

TEKNIK PEMBELAJARAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING



S
alah satu teknik pembelajaran pembelajara yang dapat dilaksanakan di dalam kelas adalah Teknik pembelajaran CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING, teknik pembelajaran ini merupakan teknik pembelajaran yang sangat populer di kalangan guru dan pelajar. Dengan CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING maka proses pembelajaran menjadi menyenangkan. Proses pembelajaran CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING mempunyai sintak dan pilar tertentu yang harus muncul pada saat proses pembelajaran.
Dengan mengoptimalkan teknik pembelajaran CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING maka proses pembelajaran menjadi sangat menyenangan dan peserta didik terlibat secara langsung, membangun pengetahuaan sendiri, peserta didik aktif bertanya dan mengajukan pertanyaan dengan pola inkuiri observasi, tanya jawab, hipoteis, pengumpulan data, analisis data, dan pengambilan keputusan dalam sebuah komunitas belajar baik di kelas maupun di luar kelas. Untuk mencapainya diperlukan teknik pembelajaran yang dapat digali baik dari guru maupun dari peserta didik. Kita tidak dapat menjadikan guru sebagai satu-satunya teknik pembelajaran, karena peserta didik mempunyai berbagai karakter dan individu yang unik. Sebuah pembelajaran harus di tutup dengan sebuah refleksi, karena tanpa refleksi maka proses pembelajaran hanya terhenti di dalam kelas, dan tidak ketika keluar kelas maka semua di tinggalkan. Sehingga seolah-olah pembelajaran di kelas tidak ada hubungannya sama sekali dengan kehidupan nyata.
CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING mempunyai 7 pilar yang harus dipedomani oleh para pemakainya. Ke 7 pilar ada yang mengatakan harus digunakan secara berurutan dan ada juga yang mengatakan yang penting unsure itu ada. Adapun 7 pilar CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING adalah:
  • þ  Kontruktivisme
  • þ  Question
  • þ  Inkuiri
  • þ  Learning Community
  • þ  Perteknik pembelajaranan
  • þ  Refleksi
1.        Konstruktivisme, merupakan konsep dimana peserta didik dalam proses pembelajaran bukanlah sebuah botol kosong tetapi membawa modal pengetahuan dan kemampuan masing-masing. Oleh karena itu dalam proses pembelajaran peserta didik di harapkan dapat membangun pengetahuan sendiri.
2.        Question, merupakan teknik yang harud  digunakan untuk memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk berpikir secara kritis dan mengevaluasi cara berpikir peserta didik, karena pertanyaan peserta didik merupakan wujud keingintahuan. Tanya jawab dapat diterapkan antara peserta didik dengan peserta didik, guru dengan peserta didik, peserta didik dengan guru, atau peserta didik dengan orang lain yang didatangkan ke kelas. Dengan demikian akan terjadi komunikasi tiga arah antara peserta didik dengan guru, peserta didik denga peserta didik.
3.        Inkuiri, merupakan siklus proses dalam membangun pengetahuan/ konsep yang bermula dari melakukan observasi, bertanya, investigasi, analisis, kemudian membangun teori atau konsep. Siklus inkuiri meliputi; observasi, tanya jawab, hipoteis, pengumpulan data, analisis data, kemudian disimpulkan.
4.        Learning Community, adalah kelompok belajar yang berfungsi sebagai wadah dalam proses pembelajaran. Dalam wadah ini ada ada persamaan lingkungan budaya, lokasi yang memungkinkan terjadi komunikasi antar peserta didik. Dengan demikian akan terjadi saling melengkapi antara peserta didik dengan guru.
5.        Perteknik pembelajaranan, teknik pembelajaran merupakan salah satu hal yang populer yang cenderung “tren” yang ingin diikuti oleh generasi muda. Biasanya sebuah teknik pembelajaran menjadi idola dan selalu ingin di contoh oleh peserta didik, dengan demikian jadikan peserta didik dan guru sebagai teknik pembelajaran sehingga mereka akan menyukai pelajaran yang bersangkutan.
6.       Refleksi, Respon dari proses pembelajaran harus dilakukan mengingat belajar dikatakan berhasil jika terjadi perubahan dalam diri peserta didik yang bersifat permanen. Perubahan ini adalah perubahan yang arah yang lebih baik. Artinya pembelajaran tidak selesai hanya sampai di dikelas dan pada pertemuan itu saja akan tetapi berlanjut di luar kelas dan pada pertemuan selanjutnya.

Kamis, 11 Februari 2010

PROBLEM BASE INTRUCTION (Model Pembelajaran Berdasarkan Masalah)


Dibandingkan dengan model pembelajaran yang lain model ini merupakan model yang paling sulit dalam pelaksanaan. Mengapa sulit? Disini siswa dituntut untuk mempersiapkan dirinya dengan baik sebelum mengikuti proses pembelajaran berkaitan dengan Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) yang akan dipelajari.
Tetapi model ini memiliki keunikan dimana, siswa dituntut untuk menyelesaikan suatu persoalan berdasarkan petunjuk yang telah diperoleh baik dari guru, LKS, praktikum atau sumber lain yang dapat digunakan. Semakin banyak pengetahuan awal yang diketahui oleh siswa maka akan semakin baik.  Model ini pada dasarnya memancing siswa untuk menyusun pengetahuan sendiri berdasarkan fakta yang diperoleh dalam proses pembelajaran. Guru dituntut untuk memberikan stimulus yang baik sehingga memancing siswa untuk mengetahui apa-apa yang harus dikuasai.
Problem Base Intruction (Model Pembelajaran Berdasarkan Masalah) ini bertumpu dari masalah yang timbul terlebih dahulu, kemudian siswa diharapkan memberikan pemecahan pada masalah tersebut. Sebagai contoh saat ini sedang gencar-gencarnya untuk hemat energy. Siswa diberikan alat berupa lilin, selembar kertas dan Bunsen atau kompor untuk memanaskan air di dalam gelas kimia. Siswa diminta untuk membuat sebuah computer yang dapat memanaskan air di dalam gelas kimia dengan cepat, berkaitan dengan penghematan energy.
Siswa tentu memiliki berbagai macam ide, dalam penyusunan compor yang hemat energy sesuai dengan pengetahuan awal mereka. Contoh lain adalah sebuah permasalahan di dalam suatu perjalanan sekelompok anak pramuka masuk ke dalam hutan, pada saat masuk hutan hari masih pagi, dan terlihat bahwa matahari tepat terbit disebelah kanan mereka. Ketika kelompok anak pramuka ini masuk hutan, dan hari menjelang sore mereka masih di dalam hutan. Mereka kebingunan untuk keluar dari hutan karena tidak memiliki kompas, yang mereka pahami adalah arah matahari sekarang ada di depan mereka. Mereka harus segera keluar, jalan manakah yang harus ditempuh agar dapat keluar dari hutan.
Secara rinci Langkah-langkah Problem Base Intruction adalah sebagai berikut:
  1. Guru menjelaskan kompetensi yang akan dicapai dan menyebutkan sarana atau alat pendukung yang dibutuhkan. Memotivasi peserta didik untuk terlibat dalam aktivitas pemecahan masalah yang dipilih.
Sebagai tonggak awal pembelajaran kita harus selalu memberikan SK, KD dan Indikator yang harus dicapai dalam pembelajaran tersebut. Dengan demikian maka proses pembelajaran menjadi terarah. Guru juga harus memberikan motivasi yang menarik sebagai momentum pembelajaran. Pembukaan dapat dilakukan dengan soal, lagu, demontransi, tarian, atau apa saja yang dapat diperoleh dengan mudah dan berkaitan dengan pembelajaran pada saat itu. Telitilah lingkungan kelas, sekolah, kebun, tempat sampah, atau apa saja yang dapat digunakan sebagai media pembuka pembelajaran. Jadikan pada “peserta didik” laksana pelanggan restoran yang kita miliki sehingga kita memberikan service yang sebaik-baiknya.
  1. Guru membantu peserta didik mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut (menetapkan topik, tugas, jadwal, dll.)
Doronglah siswa untuk mengingat, mengkontruksi, mengeluarkan pendapat sesuai dengan masalah yang sedang dihadapi. Pada proses ini guru menyediakan masalah harus dipecahkan. Ingat dalam tahap ini berilah alat-alat yang digunakan sebagai sarana.
  1. Guru mendorong peserta didik untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, eksperimen untuk mendapatkan penjelasan, pengumpulan data, hipotesis, dan pemecahan masalah.
Setelah semua informasi mengenai masalah yang dihadapi diperoleh langkah selanjutnya adalh melakukan penelitian, pengumpulan data untuk memecahkan masalah yang ada. Guru harus selalu memberikan dorongan dan bimbingan kepada siswa mengenai hal-hal yang dapat digunakan sebagai alat untuk menguasai SK dan KD yang telah ditetapkan. Dorongan siswa agar menemukan jawaban yang sesuai dengan fakta yang meraka amati.
  1. Guru membantu peserta didik dalam merencanakan/menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan dan membantu mereka berbagi tugas dengan temannya
Mintalah kepada peserta didik, untuk merangkai suatu jawaban untuk masalah yang dihadapi. Dengan demikian peran dari guru adalah memfasilitasi agar proses pengambilan jawaban tidak meleset dari indicator yang telah ditentukan.
  1. Guru membantu peserta didik untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap eksperimen mereka dan proses-proses yang mereka gunakan
Jangan lupa dalam upaya ini, ajaklah mereka kedunia kita dan bawalah dunia mereka ke dalam dunia kita. Masukan relung-relung pengetahuan siswa sehingga kesimpulan, refleksi sesuai dengan SK, KD dan Indikator yang telah ditentukan.
HaHaHaHa…. Sukses untu Anda, semoga Anda sekalian menjadi guru yang sukses. Dalam untuk para guru, mahasiswa pendidikan, atau semua pemerhati masalah pendidikan. Dari Kami di Banyuasin yang selalu ingin berbagi. Bye-Bye

Selasa, 09 Februari 2010

Model Pembelajaran PAIKEM - PAIKEM Learning Model

Proses pembelajaran apapun akan menarik jika di kemas secara baik. Sebagai guru kita harus berfikir sebagai marketing, petugas bank, pelayan hotel atau pekerja bengkel. Bukanlah kalau jika berkunjung ke Bank kita disambut dengan baik, Pak Satpam membukakan pintu dan mengambilkan nomor antrian. Pada saat kita sarapan di hotel jika kita pesan kopi manis pasti keluar kopi manis bukan teh atau kopi pahit. Atau jika ke bengkel jika service maka di service kendaraan kita.
Begitulah semestinya kita mengajar, siswa kita adalah para pelanggan ilmu yang tidak semuanya punya minat yang besar terhadap pelajaran yang kita ajarkan. Bahkan di antara mereka ada yang terpaksa masuk karena kurikulumnya harus begitu. Sebagai guru kita akan merasa puas jika kita mengajar siswa kita mengerti atau penuh antusias dalam mengikuti proses pembelajaran.
Salah satu cara agar proses pembelajaran menarik adalah menggunakan model. Peserta didik yang kita hadapi pada umumnya usianya masih sangat muda, sedang berkembang pesat dan labil. Kebiasaan dari generasi ini adalah mengikuti tren yang sedang terjadi. Tren ini akan menjadi Model pada hidupnya dan meniru apa yang menjadi idolanya setiap sisinya.
Filofosi inilah yang menjadikan model pembelajaran terus berkembangan dan menarik banyak guru. Semakin banyak kita menguasai model pembelajaran akan menjadi kita guru yang menarik dan professional. Bayarannya, siswa akan bertanya “KENAPA BAPAK AA, IBU ii TIDAK HADIR YA, KANGEN DEH” padahal kita baru sekali tidak masuk kelas. Atau pada saat pembelajaran siswa badannya condong ke depan karena ingin dekat dengan kita karena sudah dengan kita dan tentunya mata pelajaran kita. Kesan guru killer harus jauhhhh di guru professional.
Salah satu yang perlu dilakukan adalah dengan menggunakan model pembelajaran, dengan model maka proses pembelajaran menjadi milik bersama. Milik siswa dan miliki guru, harus ada pergeseran paradigm bahwa guru bukan satu-satunya sumber ilmu yang menguasai semua ilmu pengetahuan. Libatkan mereka, menurut Quantum Teaching “Bawalah Dunia Kita ke Dunia Mereka, dan bawalah dunia mereka ke Dunia Kita”.
Model yang menarik itu salah satunya adalah PAKEM (Pembelajaran Aktif Kreatif Efektif dan Menyenangkan) dan berkembang lebih jauh menjadi PAIKEM (Pembelajaran Aktif Inovatif Kreatif Efektif dan Menyenangkan). Meskipun model ini dibandingkan model lain memiliki cara dan teknik pelaksanaan yang sangat luas, model ini menuntut agar guru selalu melakukan 4 atau lima tindakan (Aktif, Kreatif, Inovatif dan Menyenangkan)
Aktif: Pembelajaran harus melibatkan peserta didik secara langsung, siswa diajak untuk terjun langsung dalam proses pembelajaran. Dengan demikian siswa merasa bagian yang utuh dari proses pembejaran. Pembelajaran harus adalah aktifitas baik dari guru maupun dari siswa. Dalam pembelajaran seharusnya siswa lebih aktif daripada guru. Disini dituntut peran guru untuk melibatkan siswa untuk mencari bahan, membaca, mengemukakan pendapat, menyanggah ataupun menyimpulkan pembelajaran sesuai dengan kemampuan masing-masing. Setiap siswa mempunyai cara dan teknik yang unik untuk mempelajari sesuatu, sehingga kita tidak dapat memaksanakan dengan satu cara saja. Guru harus selalu berusaha agar semua peserta didik menceburkan dirinya dalam proses pembelajaran pada saat itu.
Indikator aktif dapat dilihat dari keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran, bagaimana aktifitas mereka mengerjakan soal, melakukan praktek, mengemukakan pendapat. Aktif juga ditandai dengan “kelas yang meriah”.
Kreatif: Sebagai guru kita juga harus memberikan kesempatan kepada peserta didik kita untuk kreatif mengembangkan ide dan pikiran sesuai dengan kemampuan masing-masing. Kreatif ditandai dengan beragamanya cara, teknik, metoda yang digunakan siswa pada saat menjawab soal, melakukan diskusi, membuat catatan, cara menghafal, cara membuat tugas dan sebagainya. Mereka harus diberikan kesempatan untuk mengembangkan bakat dan kemampuan mata pelajaran masing-masing. Tidak meski menggunakan cara-cara atau teknik yang selalu kita berikan. Teknik yang kita berikan hanyalah sebagaian kecil “titian keledai” agar peserta didik dalam mengembangkan kemampuannya sesuai dengan keinginannya sesuai dengan tuntutan KKM (Kriteria Ketuntasan Minimum) atau tuntutan SKL (Standar Ketuntasan Lulusan)
Efektif: Proses pembelajarna harus berlangsung secara efektif, artinya tepat sasaran sesuai dengan indicator dan tujuan yang akan dicapai dalam proses pembelajaran. Pembelajaran yang dilakukan harus sesuai dengan rencana (RPP) yang telah disusun dengan baik. Di sisi guru dituntut untuk membuat persiapan dan merencakan pembelajaran sebaik-baiknya. Perencanaan pembelajaran yang baik akan menghasilankan PBM yang optimal. Segala bahan, teknik, cara, pertanyaan, soal sudah dipikirkan sebelum PBM berlangsung. Pada saat PBM berlangsung jika ada ide baru yang lebih baik dapat dilakukan perubahan dengan catatan PBM dengan akan melebar kemana-mana sehingga Tujuan yang sebenarnya ingin dicapai tetap sampai.
Inovatif: Sebagai guru kita harus dapat menyajikan pelajaran dengan cara-cara yang baru dan tidak dengan teknik yang monoton. Berbagai cara harus kita cari dan gunakan agar peserta didik dapat mencapai KKM dan SKL yang telah ditentukan. Dengan inovasi teknik, cara, metoda, model, pembelajaran menjadi menarik. Guru harus selalu inovatif dengan belajar banyak dari internet, perpustakaan, buku, atau sumber belajar lain yang ada di lingkungannya untuk mendukung proses pembelajaran.
Kreatif dan Inovatif pada dasarnya sama saja, hanya saja inovatif lebih menekankan pada hal-hal yang baru yang mungkin merupakan temuan yang kita lakukan. Kreatif juga merupakan berbagai cara, teknik, metoda, model guru untuk dapat mencapai KKM dan SKL yang telah ditentukan. Semakin banyak pengalaman yang diperoleh guru maka akan menghasilkan teknik yang semakin banyak. Agar guru kreatif maka guru harus selalu ikut dalam pelatihan, seminar, lokakarya, symposium yang berkaitan dengan pembelajaran. Gunakan waktu-waktu seperti itu untuk menimba ilmu dan mengimplementasikan ke dalam pembelajaran di kelas.
Menyenangkan: Guru harus dapat menciptkan suasana pembelajaran yang “meriah” di dalam kelas. Menyenangkan ada yang mengartikan akan memerlukan biaya yang TIDAK murah, padahal tidak demikian. Untuk melakukan pembelajaran yang menyenangkan kita harus mempersipakannya dengan baik. Sebagai contoh pada saat kita mengajar fisika, mengajar tentang gerak melingkar kita cukup menggunakan sebuah botol minuman bekas diisi dengan air diikat dengan lain, buka tutup botol lalu gerakan secara vertical dan horizontal. Sebelumnya tanyakan “Apakah air akan tumpah?, perkirakan hasil yang Anda Peroleh?”
Untuk mengajarkan tentang hukum 1 Newton kita hanya butuh sebuah gelas kosong letakan di bibir meja yang hamper jatuh, di bawahnya letakan keras kuarto yang masih bagus. Buatlah peserta didik cemas bahwa gelas tersebut akan jatuh. Dengan demikian pembelajaran akan terpusat. Tarik kertas dengan cepat, Tentu siswa akan lega karena gelas tidak jatuh bukan?.
Pada saat belajar Biologi tentang akar tunggang dan akar serabut, kita tidak perlu membuat atau menampilkan gambar tentang akar di papan tulis. Akan tetapi bawalah mereka ke kebun ke taman sekolah, siapkan tanaman untuk dicabut berakar tunggal dan serabut, ingat jangan merusak lingkungan. Dari sini siswa dapat langsung melihat jenis akar sesuai dengan pembelajaran.
Pada pembelajaran Tematik, di SD kita dapat memanfaatkan semua yang ada di kelas di ruang untuk menimbulkan aktifitas, nalar dan pemikiran sehingga mereka aktif dalam pembelajaran.
Oke Deh masih banyak yang lain, tetepi saya harus mengajar. Jadi sampai sini dulu. Majulah terus pendidikan Indonesia. Salam dari kami di Banyuasin

Selasa, 02 Februari 2010

MODEL PEMBELAJARAN PICTURE AND PICTURE

Salah satu model yang saat ini populer dalam pembelajaran adalah MODEL PEMBELAJARAN PICTURE AND PICTURE model ini merupakan salah satu bentuk model pembelajaran kooperatif. Gambar ini sangat cocok untuk pembelajaran Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia dan Matematika. Tetapi model ini tepat dapat digunakan dalam mata pelajaran yang lain dengan kemasan dan kreatifitas guru.
Sejak di populerkan sekitar tahun 2002, model pembelajaran mulai menyebar di kalangan guru di Indonesia.
Dengan menggunakan model pembelajaran tertentu maka pembelajaran menjadi menyenangkan. Selama ini hanya guru sebagai actor di depan kelas, dan seolah-olah guru-lah sebagai satu-satunya sumber belajar.
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi sudah sedemikian rupa, dimana setiap orang dapat memperoleh informasi dari seluruh dunia hanya di dalam kamar saja dengan layanan internet, maraknya penerbitan guru dan sumber-sumber lain yang tidak kita duga.
Pembelajaran modern memiliki ciri Aktif, Inovatif, Kreatif, dan Menyenangkan. Model apapun yang digunakan selalu menekankan aktifnya peserta didik dalam setiap proses pembelajaran. Inovatif setiap pembelajaran harus memberikan sesuatu yang baru, berbeda dan selalu menarik minat peserta didik. Dan Kreatif, setiap pembelajarna harus menimbulkan minat kepada peserta didik untuk menghasilkan sesuatu atau dapat menyelesaikan suatu masalah dengan menggunakan metoda, teknik atau cara yang dikuasai oleh siswa itu sendiri yang diperoleh dari proses pembelajaran.
Model Picture And Picture untuk kalangan SMA memang paling cocok untuk pembelajaran tiga mata pelajaran yang telah disebutkan di atas, sedangkan di tingkat SD dan SMP hampir semua mata pelajaran dapat menggunakan model ini.
Setiap model harus kita persiapkan dengan baik agar proses pembelajaran dapat berlangsung efektif, tanpa persiapan yang matang pembelajaran apapun akan menjadikan siswa menjadi jenuh. Model pun harus berganti-ganti dalam beberapa pertemuan agar PBM tidak monoton.
Model Pembelajaran ini mengandalkan gambar sebagai media dalam proses pembelajaran. Gambar-gambar ini menjadi factor utama dalam proses pembelajaran. Sehingga sebelum proses pembelajaran guru sudah menyiapkan gambar yang akan ditampilkan baik dalam bentuk kartu atau dalam bentuk carta dalam ukuran besar. Atau jika di sekolah sudah menggunakan ICT dalam menggunakan Power Point atau software yang lain.
Langkah-langkah dalam PICTURE AND PICTURE adalah sebagai berikut:
1. Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai
Di langkah ini guru diharapkan untuk menyampai apaka yang menjadi Kompetensi Dasar mata pelajaran yang bersangkutan. Dengan demikian maka siswa dapat mengukur sampai sejauh mana yang harus dikuasainya. Disamping itu guru juga harus menyampaikan indicator-indikator ketercapaian KD, sehingga sampai dimana KKM yang telah ditetapkan dapat dicapai oleh peserta didik.

2. Menyajikan materi sebagai pengantar
Penyajian materi sebagai pengantar sesuatu yang sangat penting, dari sini guru memberikan momentum permulaan pembelajaran. Kesuksesan dalam proses pembelajaran dapat dimulai dari sini. Karena guru dapat memberikan motivasi yang menarik perhatian siswa yang selama ini belum siap. Dengan motivasi dan teknik yang baik dalam pemberian materi akan menarik minat siswa untuk belajar lebih jauh tentang materi yang dipelajari.

3. Guru menunjukkan/memperlihatkan gambar-gambar kegiatan berkaitan dengan materi
Dalam proses penyajian materi, guru mengajar siswa ikut terlibat aktif dalam proses pembelajaran dengan mengamati setiap gambar yang ditunjukan oleh guru atau oleh temannya. Dalam pembelajaran bahasa Inggris atau bahasa Indonesia siswa dapat mencerikan kronologi, jalan cerita atau maksud dari gambar yang ditunjukan. Dalam Pelajaran Matematika dapat digambarkan tentang kubus, segitiga atau lainnya dari sini dapat digambarkan mengenai diagonal, diagonal ruang, tinggi atau luas bidang.
Dalam pelajaran Geografi dapat ditunjukan bagaimana dengan proses terjadinya batuan. Ingatlah bahwa JIKA DAPAT DI VISUALKAN kenapa harus pakai kata-kata. Dengan Picture atau gambar kita akan menghemat energy kita dan siswa akan lebih mudah memahami materi yang diajarkan.
Dalam perkembangakan selanjutnya sebagai guru Anda dapat memodifikasikan gambar atau mengganti gambar dengan video atau demontrasi yang kegiatan tertentu seperti membuat kopi, menggoreng tempe dan sebagainya.

4. Guru menunjuk/memanggil siswa secara bergantian memasang/mengurutkan gambar-gambar menjadi urutan yang logis.
Di langkah ini guru harus dapat melakukan inovasi, karena penunjukan secara langsung kadang kurang efektif dan siswa merasa terhukum. Salah satu cara adalah dengan undian, sehingga siswa merasa memang harus menjalankan tugas yang harus diberikan.
Gambar-gambar yang sudah ada diminta oleh siswa untuk diurutan, dibuat, atau dimodifikasi. Jika menyusunan bagaiaman susunananya. Jika melengkapi gambar mana gambar atau bentuknya, panjangnya, tingginya atau sudutnya.
Perlu di ingat uratan dalam pembuatan harus benar sebagai contoh dalam matematikan untuk menggambar diagonal ruang adalah langkah yang harus dilakukan dengan benar sampai ditemukan diagonal ruangnya.
Untuk menceritakan gambar dalam bahasa Inggris atau bahasa Indonesia ada urutan-urutan yang harus dilakukan.

5. Guru menanyakan alasan/dasar pemikiran urutan gambar tersebut
Setelah itu ajaklah siswa menemukan rumus, tinggi, jalan cerita, atau tuntutan KD dengan indicator yang akan dicapai. Ajaklah sebanyak-banyaknya peran siswa dan teman yang lain untuk membantu sehingga proses diskusi dalam PBM semakin menarik. Okelah Kalau Begitu Kata OVJ kannn!!!

6. Dari alasan/urutan gambar tersebut guru memulai menanamkan konsep/materi sesuai dengan kompetensi yang ingin dicapai
Dalam proses diskusi dan pembacaan gambar ini guru harus memberikan penekanan-penekanan pada hal ini dicapai dengan meminta siswa lain untuk mengulangi, menuliskan atau bentuk lain dengan tujuan siswa mengetahui bahwa hal tersebut penting dalam pencapaian KD dan indicator yang telah ditetapkan.
Pastikan bahwa siswa telah menguasai indicator yang telah ditetapka.

7. Kesimpulan/rangkuman
Hoo hooo hebat kan, tidak terasa pembelajaran berakhir dengan cepat. Padahal rencanya hanya 2 JP eh kurannggg. Ini rencananya Cuma 1 lembar ehhhh jadi 3 halaman. Majulah terus pendidikan Indonesia. Salam Dari Kami di Banyuasin.

Jumat, 22 Januari 2010

Model Pembelajaran TGT-TGT Learning Model

TGT adalah salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang menempatkan siswa dalam kelompok - kelompok belajar yang beranggotakan 5 sampai 6 orang siswa yang memiliki kemampuan, jenis kelamin dan suku kata atau ras yang berbeda. Guru menyajikan materi, dan siswa bekerja dalam kelompok mereka masing - masing. Dalam kerja kelompok guru memberikan LKS kepada setiap kelompok. Tugas yang diberikan dikerjakan bersama - sama dengan anggota kelompoknya. Apabila ada dari anggota kelompok yang tidak mengerti dengan tugas yang diberikan, maka anggota kelompok yang lain bertanggungjawab untuk memberikan jawaban atau menjelaskannya, sebelum mengajukan pertanyaan tersebut kepada guru.
Akhirnya untuk memastikan bahwa seluruh anggota kelompok telah menguasai pelajaran, maka seluruh siswa akan diberikan permainan akademik. Dalam permainan akademik siswa akan dibagi dalam meja - meja turnamen, dimana setiap meja turnamen terdiri dari 5 sampai 6 orang yang merupakan wakil dari kelompoknya masing - masing. Dalam setiap meja permainan diusahakan agar tidak ada peserta yang berasal dari kelompok yang sama. Siswa dikelompokkan dalam satu meja turnamen secara homogen dari segi kemampuan akademik, artinya dalam satu meja turnamen kemampuan setiap peserta diusahakan agar setara. Hal ini dapat ditentukan dengan melihat nilai yang mereka peroleh pada saat pre-test. Skor yang diperoleh setiap peserta dalam permainan akademik dicatat pada lembar pencatat skor. Skor kelompok diperoleh dengan menjumlahkan skor - skor yang diperoleh anggota suatu kelompok, kemudian dibagi banyaknya anggota kelompok tersebut. Skor kelompok ini digunakan untuk memberikan penghargaan tim berupa sertifikat dengan mencantumkan predikat tertentu.
Menurut Slavin pembelajaran kooperatif tipe TGT terdiri dari 5 langkah tahapan yaitu : tahap penyajian kelas (class precentation), belajar dalam kelompok (teams), permainan (geams), pertandingan (tournament), dan perhargaan kelompok ( team recognition). Berdasarkan apa yang diungkapkan oleh Slavin, maka model pembelajaran kooperatif tipe TGT memiliki ciri - ciri sebagai berikut.
a) Siswa Bekerja Dalam Kelompok - Kelompok Kecil
Siswa ditempatkan dalam kelompok - kelompok belajar yang beranggotakan 5 sampai 6 orang yang memiliki kemampuan, jenis kelamin, dan suku atau ras yang berbeda. Dengan adanya heterogenitas anggota kelompok, diharapkan dapat memotifasi siswa untuk saling membantu antar siswa yang berkemampuan lebih dengan siswa yang berkemampuan kurang dalam menguasai materi pelajaran. Hal ini akan menyebabkan tumbuhnya rasa kesadaran pada diri siswa bahwa belajar secara kooperatif sangat menyenangkan.
b) Games Tournament
Dalam permainan ini setiap siswa yang bersaing merupakan wakil dari kelompoknya. Siswa yang mewakili kelompoknya, masing - masing ditempatkan dalam meja - meja turnamen. Tiap meja turnamen ditempati 5 sampai 6 orang peserta, dan diusahakan agar tidak ada peserta yang berasal dari kelompok yang sama. Dalam setiap meja turnamen diusahakan setiap peserta homogen. Permainan ini diawali dengan memberitahukan aturan permainan. Setelah itu permainan dimulai dengan membagikan kartu - kartu soal untuk bermain (kartu soal dan kunci ditaruh terbalik di atas meja sehingga soal dan kunci tidak terbaca). Permainan pada tiap meja turnamen dilakukan dengan aturan sebagai berikut. Pertama, setiap pemain dalam tiap meja menentukan dulu pembaca soal dan pemain yang pertama dengan cara undian. Kemudian pemain yang menang undian mengambil kartu undian yang berisi nomor soal dan diberikan kepada pembaca soal. Pembaca soal akan membacakan soal sesuai dengan nomor undian yang diambil oleh pemain. Selanjutnya soal dikerjakan secara mandiri oleh pemain dan penantang sesuai dengan waktu yang telah ditentukan dalam soal. Setelah waktu untuk mengerjakan soal selesai, maka pemain akan membacakan hasil pekerjaannya yang akan ditangapi oleh penantang searah jarum jam. Setelah itu pembaca soal akan membuka kunci jawaban dan skor hanya diberikan kepada pemain yang menjawab benar atau penantang yang pertama kali memberikan jawaban benar.
Jika semua pemain menjawab salah maka kartu dibiarkan saja. Permainan dilanjutkan pada kartu soal berikutnya sampai semua kartu soal habis dibacakan, dimana posisi pemain diputar searah jarum jam agar setiap peserta dalam satu meja turnamen dapat berperan sebagai pembaca soal, pemain, dan penantang. Disini permainan dapat dilakukan berkali - kali dengan syarat bahwa setiap peserta harus mempunyai kesempatan yang sama sebagai pemain, penantang, dan pembaca soal.
Dalam permainan ini pembaca soal hanya bertugas untuk membaca soal dan membuka kunci jawaban, tidak boleh ikut menjawab atau memberikan jawaban pada peserta lain. Setelah semua kartu selesai terjawab, setiap pemain dalam satu meja menghitung jumlah kartu yang diperoleh dan menentukan berapa poin yang diperoleh berdasarkan tabel yang telah disediakan. Selanjutnya setiap pemain kembali kepada kelompok asalnya dan melaporkan poin yang diperoleh berdasarkan tabel yang telah disediakan. Selanjutnya setiap pemain kembali kepada kelompok asalnya dan melaporkan poin yang diperoleh kepada ketua kelompok. Ketua kelompok memasukkan poin yang diperoleh anggota kelompoknya pada tabel yang telah disediakan, kemudian menentukan kriteria penghargaan yang diterima oleh kelompoknya.
c) Penghargaan Kelompok
Langkah pertama sebelum memberikan penghargaan kelompok adalah menghitung rerata skor kelompok. Untuk memilih rerata skor kelompok dilakukan dengan cara menjumlahkan skor yang diperoleh oleh masing - masing anggota kelompok dibagi dengan dibagi dengan banyaknya anggota kelompok. Pemberian penghargaan didasarkan atas rata - rata poin yang didapat oleh kelompok tersebut.
Dalam penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TGT ada beberapa tahapan yang perlu ditempuh, yaitu :
(1) Mengajar (teach)
Mempersentasekan atau menyajikan materi, menyampaikan tujuan, tugas, atau kegiatan yang harus dilakukan siswa, dan memberikan motivasi.
(2) Belajar Kelompok (team study)
Siswa bekerja dalam kelompok yang terdiri atas 5 sampai 6 orang dengan kemampuan akademik, jenis kelamin, dan ras / suku yang berbeda. Setelah guru menginformasikan materi, dan tujuan pembelajaran, kelompok berdiskusi dengen menggunakan LKS. Dalam kelompok terjadi diskusi untuk memecahkan masalah bersama, saling memberikan jawaban dan mengoreksi jika ada anggota kelompok yang salah dalam menjawab.
(3) Permainan (game tournament)
Permainan diikuti oleh anggota kelompok dari masing - masing kelompok yang berbeda. Tujuan dari permainan ini adalah untuk mengetahui apakah semua anggota kelompok telah menguasai materi, dimana pertanyaan - pertanyaan yang diberikan berhubungan dengan materi yang telah didiskusikan dalam kegiatan kelompok.
(4) Penghargaan kelompok (team recognition)
Pemberian penghargaan (rewards) berdasarkan pada rerata poin yang diperoleh oleh kelompok dari permainan

Senin, 04 Januari 2010

CTL

Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan proses pembelajaran yang holistik dan bertujuan membantu siswa untuk memahami makna materi ajar dengan mengaitkannya terhadap konteks kehidupan mereka sehari-hari (konteks pribadi, sosial dan kultural), sehingga siswa memiliki pengetahuan/ ketrampilan yang dinamis dan fleksibel untuk mengkonstruksi sendiri secara aktif pemahamannya.
CTL disebut pendekatan kontektual karena konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota masyarakat.
Rasional
Dalam Contextual teaching and learning (CTL) diperlukan sebuah pendekatan yang lebih memberdayakan siswa dengan harapan siswa mampu mengkonstruksikan pengetahuan dalam benak mereka, bukan menghafalkan fakta. Disamping itu siswa belajar melalui mengalami bukan menghafal, mengingat pengetahuan bukan sebuah perangkat fakta dan konsep yang siap diterima akan tetapi sesuatu yang harus dikonstruksi oleh siswa. Dengan rasional tersebut pengetahuan selalu berubah sesuai dengan perkembangan jaman.
Pemikiran Tentang Belajar
Proses belajar anak dalam belajar dari mengalami sendiri, mengkonstruksi pengetahuan, kemudian memberi makna pada pengetahuan itu. Transfer belajar; anak harus tahu makna belajar dan menggunakan pengetahuan serta ketrampilan yang diperolehnya untuk memecahkan masalah dalam kehidupannya. Siswa sebagai pembelajar; tugas guru mengatur strategi belajar dan membantu menghubungkan pengetahuan lama dengan pengetahuan baru, kemudian memfasilitasi kegiatan belajar. Pentingnya lingkungan belajar; siswa bekerja dan belajar secara di panggung guru mengarahkan dari dekat.
Hakekat
Komponen pembelajaran yang efektif meliputi:
Konstruktivisme, konsep ini yang menuntut siswa untuk menyusun dan membangun makna atas pengalaman baru yang didasarkan pada pengetahuan tertentu. Pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak secara tiba-tiba. Strategi pemerolehan pengetahuan lebih diutamakan dibandingkan dengan seberapa banyak siswa mendapatkan dari atau mengingat pengetahuan.
Tanya jawab, dalam konsep ini kegiatan tanya jawab yang dilakukan baik oleh guru maupun oleh siswa. Pertanyaan guru digunakan untuk memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpikir secara kritis dan mengevaluasi cara berpikir siswa, seangkan pertanyaan siswa merupakan wujud keingintahuan. Tanya jawab dapat diterapkan antara siswa dengan siswa, guru dengan siswa, siswa dengan guru, atau siswa dengan orang lain yang didatangkan ke kelas.
Inkuiri, merupakan siklus proses dalam membangun pengetahuan/ konsep yang bermula dari melakukan observasi, bertanya, investigasi, analisis, kemudian membangun teori atau konsep. Siklus inkuiri meliputi; observasi, tanya jawab, hipoteis, pengumpulan data, analisis data, kemudian disimpulkan.
Komunitas belajar, adalah kelompok belajar atau komunitas yang berfungsi sebagai wadah komunikasi untuk berbagi pengalaman dan gagasan. Prakteknya dapat berwujud dalam; pembentukan kelompok kecil atau kelompok besar serta mendatangkan ahli ke kelas, bekerja dengan kelas sederajat, bekerja dengan kelas di atasnya, beekrja dengan masyarakat.
Pemodelan, dalam konsep ini kegiatan mendemontrasikan suatu kinerja agar siswa dapat mencontoh, belajr atau melakukan sesuatu sesuai dengan model yang diberikan. Guru memberi model tentang how to learn (cara belajar) dan guru bukan satu-satunya model dapat diambil dari siswa berprestasi atau melalui media cetak dan elektronik.
Refleksi, yaitu melihat kembali atau merespon suatu kejadian, kegiatan dan pengalaman yang bertujuan untuk mengidentifikasi hal yang sudah diketahui, dan hal yang belum diketahui agar dapat dilakukan suatu tindakan penyempurnaan. Adapun realisasinya adalah; pertanyaan langsung tentang apa-apa yang diperolehnya hari itu, catatan dan jurnal di buku siswa, kesan dan saran siswa mengenai pembelajaran pada hari itu, diskusi dan hasil karya.
Penilaian otentik, prosedur penilaian yang menunjukkan kemampuan (pengetahuan, ketrampilan sikap) siswa secara nyata. Penekanan penilaian otentik adalah pada; pembelajaran seharusnya membantu siswa agar mampu mempelajari sesuatu, bukan pada diperolehnya informasi di akhr periode, kemajuan belajar dinilai tidak hanya hasil tetapi lebih pada prosesnya dengan berbagai cara, menilai pengetahuan dan ketrampilan yang diperoleh siswa.
Penerapan CTL dalam pembelajaran
Kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri dan engkonstruksi sendiri pengetahuan dan ketrampilan baru. Lakukan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua toipik. Kembangkan sifat keingin tahuan siswa dengan cara bertanya. Ciptakan masyarakat belajar (belajar dalam kelompok-kelompok). Hadirkan model sebagai contoh dalam pembelajaran. Lakukan refleksi pada akhir pertemuan. Lakukan penilaian otentik yang betul-betul menunjukkan kemampuan siswa.
====================================================================================
Contextual Teaching and Learning (CTL) is a holistic learning process and aims to help students to understand the meaning of teaching materials by linking it to the context of their lives daily (personal context, social and cultural), so that students have the knowledge / skills are dynamic and flexible to actively construct their own understanding.
CTL called kontektual approach because the concept of learning that help teachers relate the material taught with real-world situations of students and encourage students to make connections between the knowledge possessed by its application in their lives as members of society.
Rational
In Contextual teaching and learning (CTL) required an approach that is more empowering students with the hope of students able to construct knowledge in their minds, rather than memorize facts. Besides, students learn through experience rather than memorization, recall of knowledge rather than a device facts and concepts that will be readily accepted but something that must be constructed by the students. With that rational knowledge is always changing in accordance with the development.
Thinking About Learning
Children's learning processes in learning from their own experience, construct knowledge, and give meaning to that knowledge. Transfer learning; children should know the meaning of learning and using the knowledge and skills gained to solve problems in life. Students as learners; tasks teachers set learning strategy and help to connect the old knowledge with new knowledge, and facilitate learning activities. Importance of learning environment; students work and learn in stage directing from the teacher.
Yolk
Effective learning components include:
Constructivism, the concept that requires students to develop and construct meaning of new experiences based on specific knowledge. Constructed by human knowledge bit by bit, the result is extended through a limited context and not sudden. Knowledge acquisition strategies are preferred compared to how many students have knowledge of or remember.
Frequently asked questions, in this concept of the question and answer activities undertaken by teachers and by students. Questions teachers used to provide an opportunity for students to think critically and evaluate the students' ways of thinking, students seangkan question is a form of curiosity. Frequently asked questions can be applied between the students with students, teachers and students, students with teachers, or students with other people who were brought into the classroom.
Inkuiri, is a cycle in the process of building knowledge / concept that originated from the observation, questioning, investigation, analysis, and then build a theory or concept. Inkuiri cycle include; observation, frequently asked questions, hipoteis, data collection, data analysis, and then summed.
Learning community, is a study group or community that serves as a communication forum for sharing experiences and ideas. Practice can be either in the establishment of small groups or large groups and to bring experts into the classroom, work with equal class, working with a class on it, beekrja with the community.
Modeling, in this concept of activities that demonstrate a student's performance can be modeled, belajr or do something in accordance with the model provided. Teachers provide models of how to learn (how to learn) and the teachers are not the only model can be drawn from the student achievement or through print and electronic media.
Reflection, which saw the return or respond to an event, activities and experiences that aim to identify things that are known, and it is not known to be an act of completion. The realization is; direct question about what he earned that day, notes and journals in the student book, impressions and suggestions regarding student learning on that day, discussions and work.
Authentic assessment, assessment procedures that demonstrate the ability (knowledge, skills attitude) for real students. The emphasis is on authentic assessment; learning should help students to be able to learn something, not to obtain information on akhr period, assessed the progress of learning not only the result but rather on the process in many ways, assessing knowledge and skills students acquired.
Application of CTL in the learning
Develop the idea that children will learn more meaningful way to work alone, find themselves and their own engkonstruksi new knowledge and skills. Do as far as possible for all inkuiri activities toipik. Develop nature desire knowledge by asking students. Create community learning (learning in groups). Present the model as an example in learning. Make a reflection at the end of the meeting. Authentic assessment done really shows the ability of students.

Kamis, 03 Desember 2009

Model STAD-STUDENT TEAMS-ACHIEVEMENT DIVISIONS

Model pembelajaran STAD merupakan model pembelajaran berkelompok. Saat ini model pembelajaran ini sangat populer di kalangan guru di Sumatera Selatan. Banyak guru memilih model STAD karene keistimewaan dari model tersebut.
Seperti biasa sebelum melaksanakan proses pembelajaran dengan model STAD adalah beberapa hal yang perlu di pahami oleh guru atau mahasiswa pendidikan.
Langkah yang harus dilakukan oleh Guru adalah sebagai berikut:

  1. Membentuk kelompok yang anggotanya + 4 orang secara heterogen (prestasi, jenis kelamin, suku, dll)
  2. Guru menyajikan pelajaran
  3. Guru memberi tugas kepada kelompok untuk dikerjakan oleh anggota-anggota kelompok
  4. Guru memberi kuis/pertanyaan kepada seluruh peserta didik. Pada saat menjawab kuis tidak boleh saling membantu
  5. Memberi evaluasi
  6. Kesimpulan
Pelaksanaan langkah demi langkah adalah sebagai berikut:
  1. Guru dapat membagi siswa dalam kelompok-kelompok, hitung jumlah siswa yang ada di kelas tersebut. Misalkan 32. Maka 32: 4 = 8. Mintalah siswa berhitung dari 1 - 8. Setiap anak yang bernomor sama berkumpul menjadi kelompok yang sama. Pembagian seperti ini memilah siswa-siswi secara random, siswa tidak diperbolehhkan untuk memilih anggata kelompoknya sendiri-sendiri.
  2. Guru menyajikan pelajaran, Jika pembelajaran dilakukan di kelas guru dapat memberikan pembelajaran dengan metoda apa saja. Jika di Laboratorium dapat dilakukan dengan metoda demonstrasi, guru menyajikan step demi step apa yang akan dilakukan dalam praktikum sampai selesai.
  3. Langkah ke-3 siswa diminta untuk menyelesaikan, merangkum isi bacaan, diskusi. Jika praktikum setelah guru melaksanakan demontrasi, dilanjutkan dengan siswa melakukan pratikum sampai selesai. Dalam pelaksanaan praktikum guru harus memantau agar proses praktikum berjalan dengan baik. Setelah praktikum selesai dapat dilakukan presentasi, atau pembahasan hasil baik per kelompok maupun secara klasikal.
  4. Setelah praktikum selesai, dilakukan evaluasi misalkan memberikan pertanyaan, soal, dan sebagainya pada semua peserta didik dalam kelompok masing-masing. Dalam proses menjawab evaluasi siswa (peserta didik) tidak perbolehkan untuk melihat atau bertanya kepada temannya.Lakukan sampai pembelajaran benar-benar tuntas (mastery learning)
  5. Sebagai langkah penutup maka dilakukan pemberian tugas, perlu diingat memberi tugas tidak perlu banyak, sesuai dengan prinsip penilaian KTSP tugas ini paling lama diselesaian 60% dari waktu pertemuan di kelas.
  6. Tutuplah pelajaran dengan menarik, sehingga siswa berkeinginan hadir lebih pagi pada pelajaran Anda.
Selamat melaksanakan model ini, semoga  Anda akan menjadi guru yang menjadikan siswa-siswa di kelasnya ada senang, riang, dan selalu menanti kehadiran Anda di ruang kelas.
Jika ada yang belum jelas, kirim melalui  isi buku tamu atau kirim email sadimansmaplus@yahoo.co.id 
Sekali lagi selamat dan sukses.
Palembang, Nov-2009

Sabtu, 28 November 2009

Model Jigsaw 2

Sebuah pembelajaran berkelompok dapat dikemas sedemikian rupa sehingga peserta diskusi dalam pembelajaran kelompok dapat berpartisipasi secara aktif. Salah satu yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan model pembelajaran Jiqsaw. Model ini terdiri dari Model Jigsaw 1 dan Model Jigsaw 2. Dalam pembelajaran Jigsaw ada beberapa tahapan yang harus dilaksanakan oleh pemakai model ini, karen tahapan-tahapan ini merupakan hal penting dan menjadi ciri daripada model jigsaw, baik jigsaw 1 ataupun jigsaw 2.
Model Jigsaw 1 dilakukan dengan cara membagi siswa satu kelas kedalam kelompok-kelompok kecil yang terdiri atas 3 sampai 5 orang. Tiap-tiap kelompok diberikan suatu permasalahan yang berbeda, jika ada 5 kelompok maka harus disediakan 5 masalah, jika ada 4 kelompok juga disediakan masalah sebanyak 4 masalah. Setiap kelompok membahas masalah masing-masing, setelah semua siap maka mendiskusikannya di depan semua kelompok lain, kelompok lain di minta untuk menanggapi, memberikan saran dan menyanggah permasalahan yang disampaikan
Model Jiqsaw 2 merupakan salah model pembelajaran berkelompok yang sangat populer saat ini, model ditujukan pada kegiatan laboratorium dengan jumlah praktek yang banyak tetapi jumlah alat yang terbatas, atau jika dalam materi maka materi yang akan dibicarakan cukup banyak sedangkan waktu yang terbatas.
Dalam model jigsaw 2 ada tahapan-tahapan cara bekerja dan berdiskusi, secara umum dalam jigsaw 2 adalah 3 langkah cara bekerja dalam kelompok.
Tahap 1:
Pada tahap 1 atau tahap awal ini, teknik atau caranya adalah kelas di bagi dalam kelompok-kelompok kecil, jumlah anggota kelompok sesuai dengan masalah yang akan dibahas, misal ada 5 masalah maka setiap kelompok anggotanya 5 orang, setiap anggota kelompok mempunyai nomor dengan tujuan untuk membahas masalah sesuai dengan nomor permasalahan, kelompok-kelompok ini disebut KELOMPOK INTI.
Ada semacam kebiasaan pembagian kelompok dalam jumlah gazal sehingga peserta diskusi selalu berinteraksi dengan sesama anggota kelompok yang lain bukan berpasang-pasangan saja, kecendurungan kelompok yang beranggota gazal lebih aktif daripada kelompok yang beranggotanya genap.
Kelompok-kelompok inti berkumpul dalam komunitas awalnya dengan masalah sebanyak jumlah anggota kelompok tersebut dan tersusun seperti gambar dibawah ini.


 


 Gambar 2.1. Pembagian Kelompok


Tahap 2:
Setelah setiap anggota kelompok mendapat permasalahan maka langkah selanjutnya anggota setiap kelompok yang bernomor sama berkumpul menjadi satu untuk bekerja sama menyelesaikan permasalahan yang sama, kelompok gabungkan ini disebut KELOMPOK AHLI, nomor 1 ahli permasalahan 1, nomor 2 ahli permasalahan 2, nomor 3 ahli permasalahan 3 dan seterusnya.
Proses diskusi dalam Kelompok Ahli ini biasanya memakan waktu antara 15 menit sampai 20 menit, setelah semua permasalah dipecahkan dan semua anggota kelompok ahli mendapatkan jawaban maka setiap anggota kelompok ahli kembali lagi ke kelompok inti, sebagai induk dari kelompok yang sebenarnnya.
Jika permasalahan yang dibagikan kepada anggota kelompok cukup sederhana atau ”mudah” maka waktu yang diperlukan dalam diskusi kelompok ahli bisa lebih cepat.







 



Gambar 2.2 Cara Berpindahan anggota kelompok Ke Kelompok Ahli

Tahap 3:
Setelah kembali ke kelompok inti, maka setiap anggotanya saling mensosialisasikan hasil kerja di dalam kelompok ahli, setiap kelompok inti sekarang sudah mendapat jawaban 5 permasalahan yang diberikan, maka anggota kelompok inti tinggal bertukar pengalaman sehingga semua anggota kelompok inti mendapatkan hasil yang sesama anggotanya. Tahap ketiga ini biasanya memakan waktu yang cukup lama, jika 1 permasalahan dapat dijelaskan dalam waktu 7 menit maka untuk 5 permasalahan membutuhkan waktu selama 7 x 5 menit = 35 menit.







Gambar 2.3 Kembali ke kelompok inti

Proses pembelajaran Jigsaw merupakan teknik untuk mengaktifkan seluruh anggota kelompok, kedudukan setiap anggota kelompok sama, baik yang mempunyai  kemampuan ”kurang” atau mempunyai kemampuan lebih maka tidak ada bedanya. Setelah diskusi dalam kelompok-kelompok kecil selesai maka dapat dilanjutkan dengan diskusi ke tingkat yang lebih luas atau lebih komplek yaitu diskusi klasikal. Diskusi secara klasikan dimaksudkan untuk mengecek dan memastikan bahwa tujuan pembelajaran yang ditunjukan dengan indikator belajar sudah tercapai.
Dalam setiap diskusi baik dalam kelompok-kelompok kecil maupun dalam diskusi klasikal tugas guru adalah sebagai motivator, yang memberikan dorongan bukan sebagai pengawas sehingga proses pembelajaran berlangsung secara aktif yang ditunjukan dengan partisipasi siswa yang ”antuasias”.

Mahfud MD (Ketua MK)

Adsense Indonesia